Kamis, 26 Februari 2026

Bondol Kepala Pucat, Mirip Bondol Haji Hanya Ada di Sulawesi dan Nusa Tenggara



Bondol Kepala-pucat (Lonchura pallida) merupakan burung pipit kecil endemik di Sulawesi dan Nusa Tenggara, Indonesia. Bondol Kepala-pucat memiliki penampilan yang sangat mirip dengan Bondol Haji atau Bondol Kepala-putih (Lonchura maja).

Namun Bondol kepala-pucat dengan Bondol Haji memiliki daerah yang sebaran terpisah. Bondol Haji juga memiliki warna tubuh berwarna lebih gelap, coklat di bagian bawah tubuh dan penutup ekor bagian bawah berwarna hitam dengan warna putih pada kepala lebih banyak.


Bondol kepala-pucat endemik Sulawesi dan Nusa Tenggara yang mirip Bondol Haji


Bondol kepala-pucat dewasa memiliki warna tengkuk dan dada lebih abu-abu (atau coklat kemerahan), bagian bawah tubuh berwarna kuning peach, coklat kemerahan pada penutup ekor atas dan sisi tubuh. Bondol kepala-pucat muda sangat mirip dengan Bondol Haji muda, tetapi berwarna bulu lebih putih pada bagian bawah dan tidak ada warna coklat matang pada tunggirnya.

Baca juga : Bondol Haji, Pipit Kecil Bersongkok Putih yang Kian Jarang Terlihat

Genus Lonchura pertama kali diperkenalkan oleh Naturalis berkebangsaan Inggris William Henry Sykes pada tahun 1832 dengan \ menamai Bondol Peking Lonchura punctulata. Lonchura berasal dari bahasa Yunani “lonkhe” yang berarti kepala tombak dan “oura” yang bermakna ekor.


Bondol Haji atau Bondol Kepala-putih (Lonchura maja)


Bondol Kepala-pucat dideskripsikan oleh Wallace pada tahun 1863 dan diberinama Lonchura pallida. Kata “pallida” berasal dari bahasa Latin yang berarti pucat. Bondol kepala-pucat panjang tubuh 11 cm. Kepala dan dada putih tubuh atas kecoklatan, tunggir dan ekor kadru. Burung remaja cenderung lebih kusam.

Sebagaimana jenis burung pemakan biji-bijian lainnya, Bondol Kepala-pucat menyukai habitat terbuka seperti rawa-rawa, sawah, padang rumput, lahan pertanian, tepi perkebunan, dan semak belukar pada dataran rendah hingga elevasi 1400 mdpl.


Bondol Kepala-pucat menyukai habitat terbuka


Bondol Kepala-pucat hidup berkelompok, sering berbaur dengan spesies bondol lain. Burung ini Mengeluarkan suara bernada tinggi lemah “weee” dan nada metalik “wit-wit-wit”. Bondol Kepala-pucat memakan biji-bijian rumput dan biji-bijian kecil lainnya.

Baca juga : Bondol Hijau, Finch Cantik yang Jarang Dilirik

Kebiasaan dan perilaku seperti munia lain-lainnya termasuk sering memakan bulir-bulir padi di lahan pertanian. Bondol Kepala-pucat termasuk jenis burung yang memiliki sebaran terbatas. Sebarannya hanya ada di kawasan Wallacea (Sulawesi dan Nusa Tenggara).


Bondol Kepala-pucat hidup berkelompok


Yakni mencakup Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan hingga pulau Madu dan Kalaotoa di Laut Flores. Bondol Kepala-pucat juga terlihat di Nusa Tenggara mencakup pulau Lombok, Flores, Rote, Alor, Sawu, Dao, Kisar, Romang, Sermata dan Babar.

Burung ini sering terlihat terbang dalam kelompok kecil atau bergabung dalam kelompok besar bersama-sama dengan Bondol Taruk atau Bondol Peking melintasi daerah terbuka seperti sawah atau padang rumput untuk mencari biji-bijian. Suara chiiiip, chiiip, chiiip atau tsiiip, tsiiip, tsiiip kerap terdengar saat terbang.


Sepasang Bondol Kepala-pucat sedang mencari makan berupa biji-bijian rumput


Bondol Kepala-pucat memiliki wilayah jelajah yang luas dan populasinya melimpah. Bondol Kepala-pucat juga tidak termasuk jenis burung yang dilindungi. Burung ini dikategorikan beresiko rendah untuk punah dalam waktu dekat (Least Concern) oleh IUCN.

Baca juga : Pipit Matari, Pipit Cantik dari Tanah Papua

Bondol Kepala-pucat juga tidak tercantum dalam daftar Appendix CITES. Meski demikian, Populasi Bondol Kepala-pucat cenderung mengalami penurunan. Burung ini kerap ditangkap dengan jaring dan dijual ke murid-murid Sekolah Dasar dengan harga murah.


Bondol Kepala-pucat muda


Bondol Kepala-pucat juga seringkali ditembak dengan senapan angin karena kerap memakan bulir-bulir padi di sawah. Berbagai jenis hewan pemangsa seperti kucing, burung Alap-Alap, dan Elang juga diketahui memangsa burung ini. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Bondol Kepala Pucat, Pipit Kecil Kepala Putih Endemik Sulawesi dan Nusa Tenggara


Kamis, 01 Januari 2026

Bondol Haji, Pipit Kecil Bersongkok Putih yang Kian Jarang Terlihat



Bondol Haji (Lonchura maja) merupakan salah satu jenis burung pipit yang cukup unik dan mudah dikenali. Burung ini sering dipanggil emprit kaji atau pipit haji. Diberi nama bondol haji karena kepalanya berwarna putih, seperti orang pakai peci putih haji. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama White-headed Munia.

Ukuran tubuh bondol haji hanya sekitar 11 cm (seukuran telunjuk orang dewasa). Burung bondol haji ini memiliki warna bulu dasar cokelat putih seperti burung bondol oto-hitam (L. ferruginosa) tetapi dengan warna yang lebih terang. Seluruh kepala dan tenggorokannya sendiri berwarna putih.


Bondol oto-Hitam (Lonchura ferruginosa)


Burung bondol haji muda memiliki bulu berwarna cokelat di bagian atas, sementara bagian bawah dan wajahnya berwarna kuning tua. Sementara bulu wajah berwarna kekuningan. Burung bondol haji muda juga dapat dilihat dari warna keputihan pada bagian belakang dan bawah telinga.

Baca juga : Pipit, Burung Pemakan Bijian dengan Warna Menarik yang Sering Dianggap Hama

Iris burung bondol haji bercorak cokelat, paruhnya berwarna abu-abu kebiruan, sedangkan kakinya kebiruan pucat. Bentuk mata bondol haji bulat telur atau agak bundar dengan corak hitam pekat. Berkat keunikan warnanya, banyak orang tertarik memelihara burung pipit haji.


Bondol Haji menyukai daerah terbuka


Habitatnya tidak jauh berbeda dengan jenis bondol lain, bondol haji menyukai habitat terbuka, sering ditemui di lingkungan pedesaan dan kota, terutama di dekat persawahan atau tegalan. Burung ini juga menyukai lahan budidaya bersemak terbuka, kolam ikan, rawa-rawa, tepi jalan, tepian hutan terbuka dengan pohon yang telah ditebang, padang rumput, lapangan terbuka bervegetasi dan kebun.

Sering bertengger untuk bermalam dan bersarang di pohon-pohon, tegakan palem, pinang atau semak yang tinggi. Di Sumatera, Jawa dan Bali, burung ini terdistribusi sampai pada kawasan berketinggian 1.500 meter di atas laut.

Dibandingkan jenis bondol lainnya, bondol haji memiliki sebaran lebih terbatas di Asia Tenggara. Habitat burung bondol haji berada di wilayah tropis. Populasinya menyebar mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi di Indonesia, serta Thailand, dan Vietnam Selatan. Bahkan, spesies ini telah diperkenalkan sampai ke Okinawa dan Osaka di Jepang.

Bondol haji akan membentuk kawanan dalam jumlah besar saat musim panen padi. Namun berpasangan dan terpencar-pencar saat musim kawin. Sering teramati bergerombol memakan bulir biji-bijian di semak rerumputan atau bahkan turun ke atas tanah. Kelompok ini umumnya lincah dan bergerak bersama-sama, sambil terus berbunyi-bunyi saling memanggil.


Bondol Haji menyukai bulir-bulir padi


Karena itu bagi sebagian orang spesies bondol haji dianggap sebagai hama. Padahal burung ini dapat menjadi perameter kualitas lingkungan, mengingat bondol haji cuma tinggal di area yang masih asri saja. Bondol haji berkembangbiak sepanjang tahun. Burung ini memiliki sarang berupa anyaman.

Baca juga : Bondol Hijau, Finch Cantik yang Jarang Dilirik

Sarang yang dibangun terbuat dari rerumputan yang ditumpuk serta tergulung seperti bola atau botol, diletakkan tersembunyi di antara daun-daun dan ranting. Bondol haji biasanya membuat sarang di batang pohon padi, tetapi tidak jarang juga ada yang membuat sarang di sela-sela tandan buah pisang.


Seekor Bondol Haji sedang membangun sarangnya


Masa kawin burung bondol haji di Asia Tenggara berlangsung umumnya antara Januari hingga September, dengan musim kawin spesifik di Jawa tercatat pernah terjadi pada bulan Februari, saat burung ini membentuk pasangan dan membangun sarang.

Telurnya berwarna putih sebanyak 4-6 butir dan akan menetas setelah dierami selama sekitar 14 hari. Baik induk jantan maupun betina akan mengerami telur-telur tersebut secara bergantian. Setelah menetas, anakan bondol haji akan tetap berada di dalam sarang dan dirawat serta diberi makan oleh induknya selama kurang lebih 15 hari.

Bondol Haji termasuk burung pemakan biji-bijian (granivore) atau seed eater terutama padi-padian dan biji dari berbagai jenis rumput lainnya. Walaupun bondol dewasa merupakan pemakan biji, namun anak-anak bondol lebih sering diberi makan serangga-serangga kecil seperti ulat dan belalang.

Kebiasaan memberi makan serangga mungkin sebagai mekanisme untuk mempercepat pertumbuhan anak, karena serangga memiliki kadar protein yang jauh lebih tinggi dibandingkan biji-bijian. Setelah sekitar 15 hari, anakan burung bondol haji biasanya sudah cukup kuat untuk terbang dan mulai belajar mencari makan sendiri di lingkungan sekitar sarang.


Anakan Bondol Haji setelah berumur 15 hari siap meninggalkan sarangnya


Walau begitu, terkadang anakan bondol haji masih akan didampingi oleh induknya. Anak bondol haji yang masih belajar mencari makan memiliki warna tubuh yang berbeda dengan bondol haji dewasa. Warnanya hanya coklat polos diseluruh tubuh, anakan bondol haji belum memiliki kepala dan leher putih seperti kedua induknya.

Baca juga : Pipit Matari, Pipit Cantik dari Tanah Papua 

Setelah beberapa lama, secara berangsur-angsur akan tumbuh bulu putih di kepala dan leher menggantikan bulu coklatnya yang rontok. Bondol haji dianggap dewasa (mature) ketika warna tubuhnya telah lengkap, yaitu memiliki kepala dan leher putih seperti pak haji. Populasi burung ini cukup melimpah sehingga oleh IUCN dikategorikan beresiko rendah dari kepunahan (Least Concern). Tidak termasuk dalam daftar Appendix CITES.


Bondol Haji remaja masih minta diloloh induknya


Genus Lonchura pertamakali diperkenalkan oleh Naturalis berkebangsaan Inggris William Henry Sykes pada tahun 1832 untuk menamai Bondol Peking Lonchura punctulata. Lonchura berasal dari bahasa Yunani “lonkhe” yang berarti kepala tombak dan “oura” yang bermakna ekor.

Burung bondol haji terdiri dari 2 subspesies, yaitu Lonchura maja maja, tersebar mulai dari Semenanjung Malaysia, Singapura, Sumatera, Jawa, Bali hingga Sulawesi. Diintroduksi ke Okinawa dan Osaka di Jepang. Populasi di Kalimantan kemungkinan berasal dari burung peliharaan yang lepas. Dan Lonchura maja vietnamensis, tersebar di Thailand dan Vietnam selatan. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Bondol Haji, Spesies Pipit Berpenampilan Unik


Minggu, 21 Desember 2025

Kenari Dada Lemon, Kicauan Merdunya Perpaduan Blackthroat dan Mozambik



Lemon-breasted Canary (Crithagra citrinipectus) juga dikenal sebagai kenari dada lemon atau kenari dada kuning merupakan spesies burung finch dalam famili Fringillidae. Burung ini ditemukan di Malawi, Mozambik, Afrika Selatan, Zambia, dan Zimbabwe. Habitat alaminya adalah sabana kering, semak belukar kering subtropis atau tropis, dan kebun pedesaan.

Kenari dada lemon diidentifikasi sebagai spesies pada tahun 1960 oleh Clancey dan Lawson di dekat Panda, Provinsi Inhambane, Mozambik Selatan. Sebelumnya para Ornitholog, menganggap lemon-breasted canary atau burung kenari dada kuning merupakan spesies tersendiri. Mereka pun bersepakat memberinya nama Serinus citrinipectus.

Namun sebagian ahli, terutama dari kalangan penangkar burung finch, meyakini kalau spesies ini merupakan hasil persilangan (crossing) alami antara Blackthroat/yellow-rumped seedeater (Serinus atrogularis) dan Mozambik/yellow-fronted canary (Serinus mozambicus). Faktanya, kicauan kenari dada kuning memang sangat merdu, dan terdengar seperti perpaduan suara Blackthroat dan Mozambik.


Kenari dada lemon burung berkicau asal Benua Afrika


Penelitian yang melibatkan analisis DNA mitokondria menunjukkan bahwa spesies ini, bersama dengan S. leucopygia, S. mozambicus, dan S. dorsostriatus, termasuk dalam genus terpisah. Lemon-breasted Canary telah diketahui hanya berkerabat jauh dengan anggota Afrika lainnya dari genus Serinus saat ini.

Baca juga : Blackthroat, Bangsa Burung Penyanyi dari Benua Afrika yang Mempesona

Analisis filogenetik menggunakan sekuens DNA mitokondria dan nuklir menunjukkan bahwa genus tersebut polifiletik. Oleh karena itu, genus tersebut dipecah dan sejumlah spesies, termasuk kenari dada lemon, dipindahkan ke genus Crithagra.


Kenari dada lemon di habitat alaminya, sabana kering


Meskipun nama umum Lemon-breasted Canary menunjukkan bahwa setiap kenari dada lemon memang memiliki tenggorokan/dada kuning, hal ini tidak berlaku antara jantan dan betina, sehingga mudah dibedakan. Hanya jantan yang memiliki bulu kuning khas di bagian dada.

Lemon-breasted Canary betina sebagian besar memiliki bulu berwarna krem dan cokelat, dengan tanda kepala yang kurang jelas. Selain itu, burung betina memiliki warna bulu yang cenderung lebih kusam daripada burung jantan. Warna bulu di bagian kepala burung jantan juga lebih tegas, abu-abu, dengan dua garis kuning pada kedua sisi dahinya, serta pada bulu yang menutupi cuping telinga.

Warna punggung burung jantan cokelat keabu-abuan, dengan goresan hitam. Bulu sayap kehitaman, dengan garis-garis putih yang tipis. Corak sayap ini juga dimiliki burung betina. Baik burung jantan maupun betina memiliki ekor pendek, dan bagian pantat yang berwarna kuning cerah. Dan paruh Lemon-breasted Canary mempunyai dua warna, bagian atas berwarna cokelat tua/hitam daripada bagian bawah.

Selain itu, burung jantan juga memiliki bercak putih dan kuning di pipi serta dua titik kuning dan putih di atas paruhnya. Anak burung dari spesies ini menunjukkan tepi paruh kuning. Tidak ada subspesies yang diketahui, namun ada sedikit perbedaan antara kenari dari berbagai daerah.


Kenari dada lemon sedang mencari makanan


Kenari dada lemon hidup di Afrika bagian tenggara, jauh di selatan khatulistiwa, dan terkadang di wilayah yang sama dengan tempat Serinus mozambicus (umumnya dikenal sebagai green singer) juga ditemukan. Kenari dada lemon hidup di wilayah yang sebagian besar kering seperti padang rumput dengan vegetasi rendah yang sporadis dan di perbatasan kawasan hutan.

Baca juga : Mozambik, Burung Kenari Kuning Afrika Bersuara Merdu dan Berumur Panjang

Burung ini membangun sarangnya sebagian besar (dan lebih disukai) di spesies palem (Hyphaene coriacea). Menggunakan serat cokelat palem untuk membangun bagian luar sarang, sementara bagian dalamnya dilapisi dengan bahan yang lebih lembut. Sarangnya terbuat dari ijuk, kelopak bunga, dan jaring laba-laba yang berjajar rapi sepanjang sulur dari daun palem.


Kenari dada lemon hidup monogami


Di alam liar, sebagian besar burung finch membuat sarang pada tanaman yang dekat dengan permukiman penduduk. Tetapi kenari dada kuning justru selalu membuat sarang yang jauh dari permukiman penduduk, atau jauh dari aktivitas manusia. Bahkan Lemon-breasted Canary tidak mau membuat sarang di semak-semak atau tanaman/pohon yang secara umum. Perilaku ini diduga untuk menghindari serangan predator seperti kucing liar dan kera/monyet.

Selama musim kawin, burung jantan adalah penyanyi yang sibuk. Lagunya singkat, cepat, dan relatif tidak bernada dan terjadi dalam serangkaian kicauan pendek naik dan turun. Musim kawin Kenari dada lemon terjadi antara Desember dan Mei, tetapi aktivitas utama adalah pada bulan Januari dan Februari.

Burung-burung ini monogami dan cukup menyendiri dan teritorial. Proses pendekatannya secara umum kurang kompleks daripada kebanyakan finch lainnya, sebagian besar melibatkan nyanyian dan postur tubuh jantan yang terangkat dengan sayap yang sedikit terbentang untuk menarik betina.

Induk betina rata-rata akan bertelur sebanya 3 butir, dan lama pengeraman 12 – 14 hari. Anakan sudah bisa meninggalkan sarangnya pada umur 14 – 16 hari, dan mulai belajar hidup mandiri beberapa minggu kemudian. Bagi penggemar burung finch (keluarga Fringillidae) di Indonesia, Lemon-breasted Canary memang belum sepopuler Blackthroat maupun Mozambik.


Kenari dada lemon sedang meloloh anak-anaknya


Burung ini sesekali masuk ke Indonesia bersama burung impor lainnya. Tidak sedikit pula sobat kicaumania yang sengaja memesan burung jenis ini dari importir. Ini karena suara yang dimilikinya memang lebih ngerol, dengan volume yang keras. Di beberapa negara penghasil kenari dan finch, lemon-breasted canary kerap dijadikan burung media untuk melatih burung lainnya, atau bahasa popular di Indonesia adalah sebagai burung masteran.

Baca juga : Edel Sanger, Suaranya yang Merdu dan Ngerol Cocok untuk Masteran Semua Jenis Finch

Populasi kenari dada lemon secara keseluruhan mengalami penurunan, meskipun relatif ringan. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh tekanan terhadap pohon palem tempat kenari dada lemon biasa tinggal (yang digunakan untuk pembuatan furnitur) serta penangkapan untuk perdagangan burung.


Kenari dada lemon kerap dijadikan burung masteran


Meskipun demikian, di beberapa lokasi seperti Lembah Shire yang gundul di Malawi, populasi kenari dada lemon tampaknya meningkat. Khususnya di Lembah Shire, hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh kemampuan adaptasinya terhadap beragam habitat padang rumput.

Meskipun jangkauan geografisnya terbatas dan populasinya secara keseluruhan menurun, burung ini masih dianggap sebagai spesies “beresiko rendah” dalam kategori Daftar Merah IUCN saat ini. Jumlah populasi totalnya tidak diketahui, tetapi jauh di atas kisaran “rentan” yaitu <10.000 individu dewasa. Spesies burung ini hidup dan berkembang biak di area seluas 49.800 km². (Ramlee)


Sumber : remen.id

Kenari Dada Lemon, Kicauan Merdunya Terdengar seperti Perpaduan Suara Blackthroat dan Mozambik


Rabu, 10 Desember 2025

Gelatik Timor, Satwa Endemik Nusa Tenggara Timur Kerabat Dekat Gelatik Jawa



Gelatik Timor (Padda fuscata) merupakan satu-satunya spesies di Indonesia yang memiliki hubungan kekerabatan paling dekat dengan Gelatik Jawa (Padda oryzivora). Burung Gelatik Timor merupakan satwa endemik yang dijumpai hidup terbatas di Nusa Tenggara Timur.

Burung Gelatik Timor merupakan satwa endemik yang hanya ditemukan hidup di wilayah Nusa Tenggara Timur, meliputi Pulau Timor, Pulau Roti, dan Pulau Semau. Di dunia Internasional burung Gelatik Timor ini dikenal sebagai Timor Sparrow.

Gelatik Jawa


Gelatik Timor dikenali sebagai burung hias di seluruh dunia, tetapi terancam punah akibat hilangnya habitat dan perburuan. Burung Gelatik Timor ini ternyata sudah lama dipelihara dan diternakkan di Eropa dan Amerika Serikat.

Baca juga : Gelatik Jawa, Burung Endemik Pulau Jawa dan Bali yang Kian Jarang Terlihat

Sayangnya, masyarakat di Indonesia selaku pemilik plasma nutfah burung Gelatik Timor ini, malah jarang memikirkan upaya penangkarannya. Untuk memenuhi permintaan penghobi burung hias, para pedagang mengambilnya langsung dari alam.

Gelatik Timor kerabat dekat Gelatik Jawa


Postur tubuh burung Gelatik Timor relatif lebih kecil dibandingkan dengan postur tubuh Gelatik Jawa. Dimana Gelatik Timor mempunyai panjang tubuh sekitar 12-14 cm. Meskipun ukuran tubuhnya lebih kecil, Gelatik Timor memiliki banyak kemiripan dengan Gelatik Jawa.

Burung Gelatik Timor mempunyai ciri khas tudung kepala dan tenggorokan berwarna hitam, serta pipi putih, sehingga terlihat mencolok. Leher dan dada bagian atas cokelat, perut sampai bagian tunggir putih, serta paruh dan kaki abu-abu.

Kawanan Gelatik Timor di alam liar


Burung Gelatik Timor usia remaja mempunyai warna bulu alis kuning tua samar, tenggorokan putih, serta corak wajah lebih sedikit. Selain posturnya yang lebih kecil dibandingkan Gelatik Jawa, burung eksotis ini memiliki paruh kelabu keperakan, sedangkan Gelatik Jawa memiliki paruh merah muda.

Baca juga : Gelatik Wingko, Burung Kicauan Bertubuh Mungil yang Pernah Jadi Primadona

Burung ini biasanya menghuni savana, padang penggembalaan yang pohonnya jarang, semak, dan lahan budidaya di dataran rendah sampai perbukitan dengan ketinggian 720 meter dari permukaan laut (dpl). Burung Gelatik Timor menyukai daerah terbuka dengan banyak rerumputan dan dekat aliran air. Burung ini sangat menghindari hutan lebat.

Seekor Gelatik Timor yang tengah mencari makanan


Umumnya Gelatik Timor terlihat sendirian, atau dalam kelompok kecil sampai 5 individu. Kawanan Gelatik Timor bisa terlihat 30-50 ekor walau kadang-kadang dijumpai rombongan sampai ratusan atau ribuan. Namun, sesekali terlihat pula bergabung dengan burung pemakan biji-bijian lain saat mencari makanan.

Burung Gelatik Timor mencari makanan di permukaan rumput, pepohonan berbiji kecil, sawah padi, vegetasi di tepi sungai, dan hutan ekaliptus. Rangkaian ocehan “chip.. chip.. chip.. chip… – chip.. chip.. chip…” yang cepat atau tidak beraturan ketika bernyanyi dalam kelompoknya.

Gelatik Timor lebih menyukai daerah terbuka


Meski tidak begitu populer di kalangan kicau mania Indonesia, keberadaan burung gelatik timor kini makin terancam punah akibat keterbatasan lahan untuk berkembang biak dan penggunaan pestisida berlebih di persawahan. Akikabtnya, burung ini kesulitan mencari sumber makanan dan persedian air layak minum.

Baca juga : Finch, Kelompok Burung Kecil dengan Pesona Menyenangkan

Di Indonesia, sebagian besar burung Gelatik Timor yang dipelihara berasal dari tangkapan hutan yang masih liar. Sebab belum ada catatan akurat mengenai penghobi yang sukses menangkarkan burung ini. Kalaupun ada, tentu jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

Gelatik Timor yang kian terancam keberadaannya


Burung Gelatik Timor sudah termasuk dalam daftar merah Badan Konservasi Internasional (IUCN), dengan status Hampir Terancam (NT). Tidak ada cara lain untuk menyelamatkannya, kecuali mengurangi angka perburuan di alam liar, sekaligus berupaya menangkarnya. Dengan demikian, upaya penangkaran harus lebih digiatkan dan menghentikan perburuan liar. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Gelatik Timor, Burung Endemik Nusa Tenggara Timur yang Kian Terancam


Jumat, 28 November 2025

Nyilet, Penyakit pada Burung yang Berisiko Kematian



Nyilet pada burung merupakan kondisi serius di mana tubuh burung mengalami dehidrasi parah dan kekurangan gizi, sehingga otot dadanya menipis dan tulangnya menonjol tajam seperti silet. Kondisi ini membuat otot dada burung semakin menipis sehingga tulang dada burung terlihat menonjol tajam seperti pisau silet yang tajam dan seakan-akan merobek dada burung.

Karena itulah penyakit ini disebut penyakit Kurus Dada Nyilet atau penyakit Kurus Nyilet. Apa itu penyakit nyilet pada burung? Banyak pencinta burung yang mempertanyakan mengenai penyakit nyilet ini. Hal tersebut karena burung peliharaan dapat mengalami penyakit yang membahayakan kesehatannya, bahkan mengancam kehidupannya.

Penyakit burung Kurus Dada Nyilet atau Kurus Nyilet bukanlah penyakit baru. Penyakit yang sangat mematikan ini sudah ada sejak lama dan sering menyerang semua jenis burung. Dari fakta di lapangan, penyakit ini lebih sering ditemui burung-burung pemakan bijian seperti burung Lovebird, Kenari, Blackthroat, Herda Sanger, Parkit, dan masih banyak lagi burung pemakan biji lainnya yang juga berpotensi mengalami penyakit nyilet.


Burung pemakan biji-bijian rentan terkena penyakit kurus/nyilet


Burung pemakan buah dan burung pemakan serangga seperti Murai Batu, Kacer, Cendet, Cucak Ijo, Cucak Rawa, Pleci, Anis Merah, Anis Kembang dan burung lainnya juga sering terserang penyakit Kurus Nyilet. Tapi persentasenya lebih kecil dibandingkan pada burung pemakan bijian.

Baca juga : Burung Kenari Membisu, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Penyakit nyilet ini dikenal sebagai penyakit yang relatif sulit untuk disembuhkan. Terlebih jika penanganannya terlambat dan tidak dilakukan dengan langkah yang tepat, maka burung yang terkena penyakit nyilet akan memiliki risiko kematian yang cukup tinggi dalam waktu yang relatif singkat.


Burung yang mengalami kurus nyilet, tulang dadanya terasa tajam


Burung yang terkena penyakit nyilet biasanya ditandai dengan beberapa ciri. Contohnya seperti tubuh burung yang terlihat lebih lemas dan cenderung tidak aktif bergerak, bahkan ketika bergerak burung terlihat tidak stabil dan tidak seimbang.

Warna bulu yang terlihat lebih kusam, kaki yang terlihat lebih pucat, hingga nafsu makan burung yang relatif menurun secara signifikan juga menjadi tanda bahwa burung mengalami penyakit nyilet. Selain itu, burung yang nyilet umumnya akan lebih banyak minum. Hal terjadi karena tubuh burung mengalami dehidrasi yang cukup parah.

“Mas, burung peliharaanku ku kok tiba-tiba saja mati. Padahal tidak pernah telat kasih makan, apa karena air minumnya keruh ya?” Demikan chat pribadi masuk melalui salah satu platform sosial media yang paling banyak digunakan saat ini. Banyak sebenarnya keluhan sejenis yang sering dilontarkan oleh para penggemar burung.

Sebagian besar burung memang memiliki perilaku unik, yaitu seringkali memperlihatkan dirinya dalam kondisi sehat. Meski sebenarnya dalam keadaan sakit. Sebagaimana terungkap dalam berbagai hasil penelitian di dalam dan luar negeri.


Burung yang tidak dalam kondisi sehat, bulunya terlihat kusam dan mengembang


Hal ini dimaksudkan untuk mengelabuhi burung lain, baik sejenis maupun berbeda jenis, agar tidak diganggu, diserang, atau dimangsa. Karena itu, kita sering terlena melihat burung yang sepertinya sehat, dan menganggapnya sehat, sehingga tahu-tahu sudah parah, bahkan malah mati.

Baca juga : Upaya Mencegah Burung Kenari Sakit Karena Perubahan Musim

Namun, dalam batas-batas tertentu, ketika kondisinya makin memburuk, burung tidak sanggup lagi menyembunyikan penyakitnya. Pada titik ini, burung sudah dalam kondisi parah kesehatannya, bahkan ditemui dalam kondisi mati di dasar sangkar. Padahal sebelumnya terlihat baik-baik saja.


Burung dalam kondisi sakit terlihat enggan makan


Sebenarnya sebagian besar penyebab kematian burung, langsung maupun tidak langsung disebabkan oleh malnutrisi (kekuranglengkapan asupan gizi) dan stres. Banyak pemelihara memberi makan burungnya cukup banyak kadang malah berlebihan, tetapi mutunya rendah dan monoton sehingga dapat terjadi defisiensi (kekurangan sesuatu zat nutrisi).

Stres pada burung dapat disebabkan oleh buruknya higiene, perubahan-perubahan suhu yang cepat, atau trauma baik fisik maupun psikis. Baik penyakit karena defisiensi zat nutrisi ataupun karena stres berjalan lama dan menyebabkan burung merana. Pada suatu saat sampai kepada ambang batas kemampuan daya tahan tubuh, yang menurut kita ditemukan “sekonyong-konyong mati” atau “mati mendadak”!

Pada saat musim peralihan dari musim panas ke musim hujan serta pada puncak musim hujan yang biasanya jatuh pada bulan Januari sampai Pebruari. Pada saat-saat seperti itu harus lebih mewasdai kondisi burung peliharaan.

Perubahan cuaca panas siang dan dingin pada malam hari, kondisi sangkar yang kurang sehat (kotor dan lembab), pemberian menu makanan yang kurang baik, semuanya dapat menyebabkan munculnya gangguan kesehatan pada burung.


Ciri burung yang mengalami kurus nyilet


Itu sebabnya, sangat penting bagi pemilik dan penangkar untuk selalu memantau kesehatan burung, minimal dua kali sehari, agar bisa melihat kemungkinan adanya tanda-tanda sakit pada burung peliharaan. Maka yang sering tampak pada burung adalah kondisi baik-baik saja, tetapi saat dipegang ternyata sangat kurus sekali. Ada yang menyebut kondisi seperti ini dengan nyilet.

Baca juga : Merawat Kenari yang Benar agar tetap Sehat dan Rajin Berkicau

Ciri-ciri burung yang terserang penyakit kurus nyilet diantaranya adalah tubuh burung lemas dan lemah, kaki berwarna pucat, sayap turun, warna bulu kusam, bulu burung mengembang. Nafsu makan burung menurun drastis, makan sering milih-milih.


Burung yang mengalami kurus nyilet 80% tidak akan tertolong


Burung yang mengalami kurus nyilet lebih banyak minum karena tubuhnya mengalami dehidrasi. Bulu di sekitar kloaka sering basah dan banyak kotoran menempel. Kotoran burung encer berwarna putih atau hijau berbau menyengat. Tubuh burung kurus, tulang dada menonjol, dan gerak gerik burung tidak lincah, koordinasi tubuh burung terganggu, burung bergerak sempoyongan.

Berdasarkan data penelitian selama ini, penyakit burung kurus nyilet disebabkan oleh kualitas nutrisi pakan harian yang buruk. Adanya cacing yang bersarang di sistem pencernaan. Infeksi bakteri di sistem pencernaan. Infeksi jamur di sistem pencernaan, dan infeksi kompleks dari bakteri, jamur dan gizi buruk. Penanganannya disesuaikan dengan penyebab kurus nyilet itu sendiri. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Burung Nyilet, Kondisi Kesehatan Burung yang Memiliki Risiko Kematian Cukup Tinggi



Jumat, 14 November 2025

Burung Kenari Membisu, Penyebab dan Cara Mengatasinya



Burung Kenari (Serinus canaria) merupakan burung kecil yang populer sebagai hewan peliharaan karena suaranya yang merdu dan bulunya yang indah. Burung ini dikenal dengan berbagai warna bulu, mulai dari kuning, oranye, hingga putih dan merah.

Selain itu, kenari juga dikenal memiliki beberapa jenis, seperti kenari Yorkshire, Gloster, Border, dan Fife Fancy, masing-masing dengan ciri khas fisik dan suara yang unik. Seringkali para kicau mania menanyakan perihal perawatan kenari. Khususnya bagaimana agar burung ini bisa cepat rajin bunyi.

Banyak penggemar kenari yang sengaja membeli burung kenari bakalan, dengan umur di bawah 5 bulan. Sebab lebih murah daripada membeli kenari yang umurnya sudah lebih dari 7 bulan, atau sudah rajin berbunyi. Pilihan ini mengharuskan kicau mania sabar, karena butuh waktu untuk merawatnya hingga buurng ini mau berkicau.


Kenari mempunyai warna dan suara yang mempesona


Pada umumnya, kenari yang sudah pasti berjenis kelamin jantan tidak akan berkicau sampai berusia lebih dari 6 bulan. Rata-rata, burung kenari akan berkicau setelah berumur 6 bulan. Pada umur tersebut, burung kenari tersebut sudah mampu mengeluarkan suara ngerolnya, meski dengan kicauan pendek.

Baca juga : Membedakan Jenis Kelamin Burung Kenari Lewat Pengamatan Fisik dan Tingkah Lakunya

Burung akan rajin berkicau berdasarkan daya tahan tubuh dan stamina burung tersebut. Namun demikian, tidak selamanya burung dalam kondisi sehat. Meski tidak diharapkan terjadi, terkadang ada saja gangguan kesehatan yang dialami burung kenari.


Kenari mulai berkicau ketika memasuki usia 6 bulan


Termasuk pada burung kenari kesayangan. Salah satu kondisi yang sering atau lazim terjadi pada kenari adalah suaranya tiba-tiba menghilang. Ini bisa terjadi pada kenari yang sudah rajin berbunyi (gacor) maupun kenari yang sedang belajar berbunyi.

Ada beberaapa kasus di mana kenari yang sudah menggelembungkan tenggorokannya tetapi tidak keluar kicauannya. Burung kenari dapat menjadi bisu (tidak berkicau) karena berbagai faktor, mulai dari masalah kesehatan hingga stres, dan perubahan lingkungan.

Perubahan lingkungan seperti pindah kandang, kebisingan, atau perubahan suhu dapat menyebabkan kenari stres, yang mengurangi aktivitas kicauan burung kenari. Kemudian, burng enari tidak pernah dikerodong pada malam hari, sehingga mengalami kondisi yang pada manusia disebut “masuk angin”.

Ada banyak angin malam yang masuk ke pori-pori kulitnya, termasuk di bagian tenggorokan, sehingga mempengaruhi kotak suara yang disebut larynx. Kotak suara ini terdiri atas tulang rawan, tempat di mana pita-pita suara burung menempel. Kemudian adanya infeksi saluran pernapasan.


Kenari terkadang hanya bisa membisu


Seperti infeksi tenggorokan, atau penyakit lainnya seperti aspergillosis, dapat mempengaruhi suara kenari. Kenari terkena infeksi di bagian tenggorokannya, terutama akibat infeksi tungau kantung udara (air sac mites). Kenari terkena penyakit gondok atau gangguan tenggorokan lainnya.

Baca juga : Merawat Kenari yang Benar agar tetap Sehat dan Rajin Berkicau

Atau karena kenari terkena penyakitpsittacosis yang menyebabkan suaranya menjadi serak atau hilang. Gejala burung yang menderita penyakit ini antara lain mencret, lemah, bulu kusut, tidak mau makan, serta mata atau hidungnya berair. Jadi, jika muncul gejala seperti ini, maka kemungkinan besar faktor pemicu kenari kehilangan suaranya akibat penyakit ini.


Kenari yang sakit atau nyilet tidak akan rajin berkicau


Tindak pencegahan perlu dilakukan agar burung kenari tidak mengalami gangguan kehilangan suara. Diantaranya perlunya membiasakan untuk selalu mengkerodong burung kenari pada malam hari. Menjauhkan kenari dari lubang tempat keluar masuk udara/angin, misalnya ventilasi udara atau saluran udara, AC, dan kipas angin.

Terkadang karena kurangnya asupan nutrisi penting seperti protein, vitamin, dan mineral dapat menyebabkan kenari lemah dan kurang bersemangat, sehingga suaranya menjadi pelan bahkan hilang. Untuk itu secara teratur memberikan vitamin dan antibiotik untuk mencegah kenari terkena serangan penyakit, termasuk suara yang tiba-tiba hilang.

Jika kenari ternyata kenari sudah terlanjur kehilangan suaranya, harus segera dilakukan tindakan pengobatan yang aman. Berikan terapi pucuk daun mengkudu muda, sebagai ganti buah dan sayurannya selama dalam masa perawatan.

Mengganti air minum dengan air larutan selama masa perawatan. Untuk kenari, sebaiknya jangan menggunakan air minum yang masih mentah. Lebih disarankan menggunakan air matang atau air kemasan. Jika kenari mengalami serak atau hilang suara akibat dari penyakit ada beberapa produk obat di pasaran yang bisa diberikan.


Kenari perlu asupan nutrisi dan perawatan yang baik agar rajin berkicau


Setelah kenari kembali fit seperti sediakala, perawatan harian pun harus dilakukan perubahan. Misalnya, jika semula sangkar burung dibersihkan secara tidak rutin, usahakan bisa dilakukan setiap hari untuk membuang bakteri, jamur, dan kutu/tungau penyebab infeksi tenggorokan.

Baca juga : Upaya Mencegah Burung Kenari Sakit Karena Perubahan Musim

Selain itu ada juga kenari yang tidak mau berbunyi karena mental drop, atau bisa juga burung terlalu kurus (dada nyilet). Burung yang mentalnya drop antara lain ditandai dengan ketidaknyamanan di tangkringan, sehingga sering ke dasar kandang, bisa juga gedubrak-gedubrak menabrak jeruji kandang, nafsu makan turun, dan sebagainya.


Salah satu produk untuk kenari yang serak atau kehilangan suara akibat tungau kantung udara



Sedangkan untuk mengecek apakah kenari berdada nyilet, bisa dengan cara memegang burung, kemudian raba bagian dadanya dengan jari. Jika terasa lancip, dengan tulang rusuk yang menonjol, itu menandakan kenari berdada nyilet. Penyebab dada nyilet bervariasi, ada yang karena mengalami malnutrisi, atau terkait dengan penyakit dan kondisi tertentu.

Sebaliknya, burung yang gemuk juga cenderung malas bunyi. Kasusnya seperti pada manusia, di mana kurus dan gemuk selalu menimbulkan masalah, atasi kegemukan dengan berbagai macam latihan dan terapi. Pastikan kenari mendapatkan makanan yang seimbang dan berkualitas, serta suplemen vitamin dan mineral jika diperlukan. Berikan makanan yang kaya nutrisi dan bantu menjaga kebersihan kandang agar kenari tetap nyaman. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Burung Kenari Membisu, Segera Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya


Rabu, 29 Oktober 2025

Gelatik Wingko, Burung Kicauan Bertubuh Mungil yang Pernah Jadi Primadona



Gelatik Wingko (Parus cinereus cinereus) merupakan jenis burung kicauan bertubuh mungil, dengan warna bulu sangat kontras yang memiliki suara memikat hati. Sayang kini sudah jarang lagi terdengar di pekarangan rumah atau lahan perkebunan seperti beberapa tahun lalu. Nasib gelatik wingko tidak jauh berbeda dari burung ciblek, pleci, dan gelatik Jawa.

Meski namanya sama-sama gelatik, burung gelatik wingko atau sering juga disebut gelatik batu tidak ada hubungan kerabat dengan burung gelatik Jawa. Kalau gelatik Jawa adalah sebangsa burung pipit atau bondol, yang makanannya biji-bijian sedangan gelatik wingko makannya serangga kecil.

Burung gelatik wingko perawakannya kecil dan punya kicau bagus yang tidak kalah dengan burung kicauan jenis lainya. Ada beberapa kerancuan mengenai gelatik wingko. Masih banyak yang menganggap gelatik wingko berbeda dari gelatik batu. Selain itu, para ornitholog di dunia pun terkadang meletakkan gelatik batu yang ada di Indonesia sebagai subspesies dari gelatik batu sejati (Parus major), dengan nama ilmiah Parus major cinereus.


Gelatik Jawa


Tetapi ada juga yang menganggapnya spesies tersendiri, Parus cinereus, dengan beberapa subspesies di dalamnya. Masih banyak yang menganggap gelatik batu dan gelatik wingko adalah spesies yang berbeda. Ini bisa disimak dari berbagai informasi di dunia maya. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa gelatik wingko sebenarnya nama lain dari gelatik batu.

Baca juga : Gelatik Jawa, Burung Endemik Pulau Jawa dan Bali yang Kian Jarang Terlihat

Mengacu pendapat para ahli yang menyatakan bahwa gelatik wingko adalah julukan yang diberikan masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi untuk burung gelatik batu yang hidup di kawasan tersebut. Dengan demikian, gelatik wingko merupakan salah satu dari puluhan jenis gelatik batu yang ada di seluruh dunia.


Gelatik Batu sejati (Parus major)


Jadi gelatik batu, adalah semua spesies yang termasuk dalam genus Parus. Secara keseluruhan ada 24 spesies dalam genus Parus di seluruh dunia. Di antara spesies gelatik batu tersebut, yang paling popular adalah gelatik batu sejati (Parus major), yang terdiri atas 14 subspesies. Spesies ini banyak dijumpai di Eropa, Asia Baratdaya, Timur Tengah, dan Afrika.

Indonesia memiliki tiga jenis gelatik batu, salah satunya adalah gelatik wingko. Dulu ketiganya dimasukkan sebagai salah satu subspesies dari Parus major, dengan nama ilmiah Parus major cinereus. Tetapi mengingat beberapa perbedaan morfologi dan wilayah persebarannya, ketiga jenis gelatik batu asal Indonesia ini dikelompokkan dalam spesies tersendiri dengan nama Parus cinereus, tetapi hanya menjadi subspesies.

Parus cinereus terdiri atas 13 subspesies tersebut, tiga jenis di antaranya terdapat di Indonesia, yaitu Parus cinereus cinereus, habitatnya di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Parus cinereus ambiguus, habitatnya di Sumatera (dan Semenanjung Malaysia) dan Parus cinereus sarawacencis : habitat di Pulau Kalimantan, terutama di wilayah barat laut.

Gelatik batu yang ada di lereng Merapi sebenarnya sama seperti gelatik batu di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Artinya, bisa juga disebut sebagai gelatik wingko. Gelatik batu di Sumatera dan Kalimantan masih satu spesies dengan gelatik batu di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, tetapi memiliki beberapa perbedaan kecil sehingga ditetapkan sebagai subspesies tersendiri.

Peta penyebaran burung gelatik batu


Subspesies ini juga bisa disebut sebagai gelatik batu, tetapi (mestinya) bukan termasuk gelatik wingko jika pengertian gelatik wingko adalah Parus cinereus cinereus. Perlu diketahui, hampir semua jenis gelatik batu yang termasuk dalam spesies Parus cinereus hanya dijumpai di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sebagian Asia Baratdaya (Afghanistan, Turkmenistan, Tajikistan), serta tidak dijumpai di Eropa maupun Afrika.

Baca juga : Pipit Matari, Pipit Cantik dari Tanah Papua

Jadi gelatik wingko sebenarnya sama dengan gelatik batu, terutama gelatik batu yang ada di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Tetapi gelatik wingko maupun dua jenis gelatik batu khas Indonesia berbeda dari gelatik batu sejati (great tit) yang banyak dijumpai di Eropa. Gelatik batu di Indonesia, menurut para ornitholog, tidak termasuk dalam kelompok great tit, tetapi cinereous tit (istilah dalam bahasa Inggris menggunakan kata cinereous, untuk nama latin spesies tetap cinereus).


Gelatik Wingko jantan dan betina


Burung gelatik wingko jantan memiliki garis hitam yang tegas, lebar, dan memanjang hingga ke daerah sekitar kloaka (vent). Makin dewasa, makin tebal pula garis hitam tersebut. Sedangkan gelatik wingko betina memiliki garis hitam yang sempit (tidak lebar), dengan warna hitam yang agak memudar, dan garis tersebut cenderung putus-putus. Penampilan burung muda (jantan dan betina) mirip dengan gelatik wingko betina dewasa.

Burung ini mempunyai suara kicauan yang recet dan bervariasi. Ciri khasnya adalah suara “wucit” yang dibawakannya berulang-ulang. Suara tersebut seakan-akan menjadi trade mark bagi gelatik batu, sebagaimana suara ngalas pleci dan ngerolnya anis kembang. Kicauan ini akan semakin intens selama musim kawin.

Pada masa berkembangbiak induk betina bertelur sebanyak 4 – 7 butir, burung jantan akan berjaga di luar sarang, atau mencari dan memberi makan burung betina yang sedang mengerami telur. Setelah dierami induk betina selama 12 – 15 hari, telur-telur akan menetas menjadi piyikan. Pada tahapan ini, kedua induk akan merawat dan memberi makan anak-anaknya.

Pada masa itu pula, kedua induk akan bergotong-royong mengeluarkan kotoran dalam sarang, agar anak-anaknya merasa nyaman dan sarang bisa terhindar dari parasit atau bakteri. Burung gelatik wingko dikenal sangat menjaga kesehatan anak-anaknya. Ini terbukti dari penelitian di mana burung dari jenis ini juga menyimpan puntung rokok di dalam sarangnya, guna mencegah parasit masuk ke sarang mereka.


Gelatik Wingko sedang memangsa ulat


Setelah berusia 16 – 22 hari, burung muda mulai meninggalkan sarangnya, meski belum mampu mencari makan sendiri. Namun beberapa hari kemudian, biasanya umur 25 hari, mereka sudah bisa mandiri dan bisa dipisahkan dari kedua induknya. Gelatik wingko dikenal sangat produktif. Sekitar 1 minggu setelah anak-anaknya mandiri, induk betina akan bertelur lagi. Tetapi kondisi tubuh indukan sebenarnya mulai melemah.

Baca juga : Bondol Hijau, Finch Cantik yang Jarang Dilirik

Pamor burung gelatik wingko sempat berkibar pada tahun 2008 hingga tahun 2010. Pasalnya, burung ini mudah beradaptasi dan cepat bunyi ketimbang jenis burung lokal lainnya. Suaranya nyaring, dengan cerecetan panjang-panjang, serta nafas yang kuat. Selain bisa dimaster dengan jenis burung lainnya seperti burung gereja, gelatik wingko juga bisa dijadikan master andal untuk kenari.


Gelatik Wingko di dalam sarangnya


Untuk berkomunikasi dengan sesama gelatik wingko, burung ini memiliki jenis nyanyian yang berbeda-beda. Karena itulah, gelatik wingko dikenal memiliki beragam suara yang terjadi karena setiap suara yang dinyanyikan memiliki fungsi yang berbeda.

Di masa jayanya, gelatik wingko sempat dilombakan baik dalam kelas tersendiri atau masuk dalam kelas campuran lokal. Kini pamornya sebagai burung lomba telah pudar, namun masih banyak dipelihara sebagai salah satu masteran andal untuk kenari dan jenis burung lainnya, atau sekadar hiburan di rumah.


Gelatik Wingko pernah populer di kalangan kicau mania Indonesia


Salah satu hal yang membuat burung ini makin populer adalah perawatan yang relatif mudah, sifatnya yang cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, serta suaranya yang kerap dijadikan master bagi burung-burung berkicau lainnya, namun kini sangat susah mendapatkan burung cantik ini. Boleh jadi, apa yang terjadi saat ini merupakan imbas dari booming gelatik wingko di masa lalu.

Pada saat itu, perburuan liar marak terjadi untuk memenuhi permintaan penggemar gelatik wingko. Akibatnya populasinya di alam liar mengalami penurunan drastis, dan itu mempengaruhi pasokan di pasar burung, sehingga tidak mudah lagi untuk mendapatkan gelatik wingko seperti dulu. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Gelatik Wingko, Jenis Burung Kicauan Bertubuh Mungil yang Sempat Berkibar di Tahun 2008


Bondol Kepala Pucat, Mirip Bondol Haji Hanya Ada di Sulawesi dan Nusa Tenggara

Bondol Kepala-pucat (Lonchura pallida) merupakan burung pipit kecil endemik di Sulawesi dan Nusa Tenggara, Indonesia. Bondol Kepala-pucat m...