Rabu, 29 Oktober 2025

Gelatik Wingko, Burung Kicauan Bertubuh Mungil yang Pernah Jadi Primadona



Gelatik Wingko (Parus cinereus cinereus) merupakan jenis burung kicauan bertubuh mungil, dengan warna bulu sangat kontras yang memiliki suara memikat hati. Sayang kini sudah jarang lagi terdengar di pekarangan rumah atau lahan perkebunan seperti beberapa tahun lalu. Nasib gelatik wingko tidak jauh berbeda dari burung ciblek, pleci, dan gelatik Jawa.

Meski namanya sama-sama gelatik, burung gelatik wingko atau sering juga disebut gelatik batu tidak ada hubungan kerabat dengan burung gelatik Jawa. Kalau gelatik Jawa adalah sebangsa burung pipit atau bondol, yang makanannya biji-bijian sedangan gelatik wingko makannya serangga kecil.

Burung gelatik wingko perawakannya kecil dan punya kicau bagus yang tidak kalah dengan burung kicauan jenis lainya. Ada beberapa kerancuan mengenai gelatik wingko. Masih banyak yang menganggap gelatik wingko berbeda dari gelatik batu. Selain itu, para ornitholog di dunia pun terkadang meletakkan gelatik batu yang ada di Indonesia sebagai subspesies dari gelatik batu sejati (Parus major), dengan nama ilmiah Parus major cinereus.


Gelatik Jawa


Tetapi ada juga yang menganggapnya spesies tersendiri, Parus cinereus, dengan beberapa subspesies di dalamnya. Masih banyak yang menganggap gelatik batu dan gelatik wingko adalah spesies yang berbeda. Ini bisa disimak dari berbagai informasi di dunia maya. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa gelatik wingko sebenarnya nama lain dari gelatik batu.

Baca juga : Gelatik Jawa, Burung Endemik Pulau Jawa dan Bali yang Kian Jarang Terlihat

Mengacu pendapat para ahli yang menyatakan bahwa gelatik wingko adalah julukan yang diberikan masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi untuk burung gelatik batu yang hidup di kawasan tersebut. Dengan demikian, gelatik wingko merupakan salah satu dari puluhan jenis gelatik batu yang ada di seluruh dunia.


Gelatik Batu sejati (Parus major)


Jadi gelatik batu, adalah semua spesies yang termasuk dalam genus Parus. Secara keseluruhan ada 24 spesies dalam genus Parus di seluruh dunia. Di antara spesies gelatik batu tersebut, yang paling popular adalah gelatik batu sejati (Parus major), yang terdiri atas 14 subspesies. Spesies ini banyak dijumpai di Eropa, Asia Baratdaya, Timur Tengah, dan Afrika.

Indonesia memiliki tiga jenis gelatik batu, salah satunya adalah gelatik wingko. Dulu ketiganya dimasukkan sebagai salah satu subspesies dari Parus major, dengan nama ilmiah Parus major cinereus. Tetapi mengingat beberapa perbedaan morfologi dan wilayah persebarannya, ketiga jenis gelatik batu asal Indonesia ini dikelompokkan dalam spesies tersendiri dengan nama Parus cinereus, tetapi hanya menjadi subspesies.

Parus cinereus terdiri atas 13 subspesies tersebut, tiga jenis di antaranya terdapat di Indonesia, yaitu Parus cinereus cinereus, habitatnya di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Parus cinereus ambiguus, habitatnya di Sumatera (dan Semenanjung Malaysia) dan Parus cinereus sarawacencis : habitat di Pulau Kalimantan, terutama di wilayah barat laut.

Gelatik batu yang ada di lereng Merapi sebenarnya sama seperti gelatik batu di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Artinya, bisa juga disebut sebagai gelatik wingko. Gelatik batu di Sumatera dan Kalimantan masih satu spesies dengan gelatik batu di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, tetapi memiliki beberapa perbedaan kecil sehingga ditetapkan sebagai subspesies tersendiri.

Peta penyebaran burung gelatik batu


Subspesies ini juga bisa disebut sebagai gelatik batu, tetapi (mestinya) bukan termasuk gelatik wingko jika pengertian gelatik wingko adalah Parus cinereus cinereus. Perlu diketahui, hampir semua jenis gelatik batu yang termasuk dalam spesies Parus cinereus hanya dijumpai di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sebagian Asia Baratdaya (Afghanistan, Turkmenistan, Tajikistan), serta tidak dijumpai di Eropa maupun Afrika.

Baca juga : Pipit Matari, Pipit Cantik dari Tanah Papua

Jadi gelatik wingko sebenarnya sama dengan gelatik batu, terutama gelatik batu yang ada di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Tetapi gelatik wingko maupun dua jenis gelatik batu khas Indonesia berbeda dari gelatik batu sejati (great tit) yang banyak dijumpai di Eropa. Gelatik batu di Indonesia, menurut para ornitholog, tidak termasuk dalam kelompok great tit, tetapi cinereous tit (istilah dalam bahasa Inggris menggunakan kata cinereous, untuk nama latin spesies tetap cinereus).


Gelatik Wingko jantan dan betina


Burung gelatik wingko jantan memiliki garis hitam yang tegas, lebar, dan memanjang hingga ke daerah sekitar kloaka (vent). Makin dewasa, makin tebal pula garis hitam tersebut. Sedangkan gelatik wingko betina memiliki garis hitam yang sempit (tidak lebar), dengan warna hitam yang agak memudar, dan garis tersebut cenderung putus-putus. Penampilan burung muda (jantan dan betina) mirip dengan gelatik wingko betina dewasa.

Burung ini mempunyai suara kicauan yang recet dan bervariasi. Ciri khasnya adalah suara “wucit” yang dibawakannya berulang-ulang. Suara tersebut seakan-akan menjadi trade mark bagi gelatik batu, sebagaimana suara ngalas pleci dan ngerolnya anis kembang. Kicauan ini akan semakin intens selama musim kawin.

Pada masa berkembangbiak induk betina bertelur sebanyak 4 – 7 butir, burung jantan akan berjaga di luar sarang, atau mencari dan memberi makan burung betina yang sedang mengerami telur. Setelah dierami induk betina selama 12 – 15 hari, telur-telur akan menetas menjadi piyikan. Pada tahapan ini, kedua induk akan merawat dan memberi makan anak-anaknya.

Pada masa itu pula, kedua induk akan bergotong-royong mengeluarkan kotoran dalam sarang, agar anak-anaknya merasa nyaman dan sarang bisa terhindar dari parasit atau bakteri. Burung gelatik wingko dikenal sangat menjaga kesehatan anak-anaknya. Ini terbukti dari penelitian di mana burung dari jenis ini juga menyimpan puntung rokok di dalam sarangnya, guna mencegah parasit masuk ke sarang mereka.


Gelatik Wingko sedang memangsa ulat


Setelah berusia 16 – 22 hari, burung muda mulai meninggalkan sarangnya, meski belum mampu mencari makan sendiri. Namun beberapa hari kemudian, biasanya umur 25 hari, mereka sudah bisa mandiri dan bisa dipisahkan dari kedua induknya. Gelatik wingko dikenal sangat produktif. Sekitar 1 minggu setelah anak-anaknya mandiri, induk betina akan bertelur lagi. Tetapi kondisi tubuh indukan sebenarnya mulai melemah.

Baca juga : Bondol Hijau, Finch Cantik yang Jarang Dilirik

Pamor burung gelatik wingko sempat berkibar pada tahun 2008 hingga tahun 2010. Pasalnya, burung ini mudah beradaptasi dan cepat bunyi ketimbang jenis burung lokal lainnya. Suaranya nyaring, dengan cerecetan panjang-panjang, serta nafas yang kuat. Selain bisa dimaster dengan jenis burung lainnya seperti burung gereja, gelatik wingko juga bisa dijadikan master andal untuk kenari.


Gelatik Wingko di dalam sarangnya


Untuk berkomunikasi dengan sesama gelatik wingko, burung ini memiliki jenis nyanyian yang berbeda-beda. Karena itulah, gelatik wingko dikenal memiliki beragam suara yang terjadi karena setiap suara yang dinyanyikan memiliki fungsi yang berbeda.

Di masa jayanya, gelatik wingko sempat dilombakan baik dalam kelas tersendiri atau masuk dalam kelas campuran lokal. Kini pamornya sebagai burung lomba telah pudar, namun masih banyak dipelihara sebagai salah satu masteran andal untuk kenari dan jenis burung lainnya, atau sekadar hiburan di rumah.


Gelatik Wingko pernah populer di kalangan kicau mania Indonesia


Salah satu hal yang membuat burung ini makin populer adalah perawatan yang relatif mudah, sifatnya yang cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, serta suaranya yang kerap dijadikan master bagi burung-burung berkicau lainnya, namun kini sangat susah mendapatkan burung cantik ini. Boleh jadi, apa yang terjadi saat ini merupakan imbas dari booming gelatik wingko di masa lalu.

Pada saat itu, perburuan liar marak terjadi untuk memenuhi permintaan penggemar gelatik wingko. Akibatnya populasinya di alam liar mengalami penurunan drastis, dan itu mempengaruhi pasokan di pasar burung, sehingga tidak mudah lagi untuk mendapatkan gelatik wingko seperti dulu. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Gelatik Wingko, Jenis Burung Kicauan Bertubuh Mungil yang Sempat Berkibar di Tahun 2008


Minggu, 26 Oktober 2025

Gelatik Jawa, Burung Endemik Pulau Jawa dan Bali yang Kian Jarang Terlihat



Gelatik Jawa (Padda oryzivora) pertama kali ditemukan oleh Linnaeus pada tahun 1758 dan diberi nama ilmiah Loxia oryzivora. Namun sejalan dengan kemajuan taksonomi burung, nama ilmiah tersebut diganti menjadi Padda oryzivora. Sementara itu, gelatik jawa di Inggris dikenal dengan naman Java Sparrow dan di Belanda dikenal dengan sebutan Rijstuogel.

Indonesia mempunyai keanekaragaman jenis burung ysng sangat tinggi. Sekitar 1.712 jenis burung tercatat hidup di Indonesia dan sebanyak 493 jenis burung dikategorikan sebagai jenis endemik. Meskipun Indonesia memiliki banyak ragam jenis burung yang unik, akan tetapi negara ini memegang daftar panjang jenis burung yang terancam kepunahan (Birdlife International 2017).


Koloni gelatik jawa di alam liar


Salah satu dari jenis burung yang dianggap kian langkah adalah jenis burung gelatik jawa. Gelatik jawa merupakan burung dari famili Estrildidae yaitu salah satu gfamili yang sangat besar dan tersebar di Australia, Asia, Afrika, dan Eropa, dimana mereka menyukai lahan pertanian, pekarangan rumah, dan wilayah perkotaan.

Baca juga : Gould Amadin, Burung Pipit Menawan dari Aussy

Secara bentuk fisik gelatik jawa memiliki ciri khas yang menonjol. Ukurannya kecil, dengan panjang 15 cm berekor pendek, dan mempunyai paruh tebal pendek yang berguna untuk memakan bijian.


Sepasang gelatik jawa terlihat di dahan sebuah pohon


Burung gelatik jawa yang masih muda umumnya berwarna coklat, sedangkan untuk burung gelatik dewasa mempunyai ciri-ciri yaitu bulu berwarna abu-abu, perut berwarna cokelat kemerahan, kaki merah muda dan lingkaran merah di sekitar matanya.

Gelatik jawa termasuk burung yang berpasangan, namun sangatlah sulit untuk membedakan jenis burung gelatik jawa jantan dan betina (monoformik). Karena mereka memiliki bentuk yang hampir serupa.


Seekor gelatik jawa membuat sarang di lubang pohon


Dari sumber informasi yang didapat, cara umum untuk membedakan jenis kelamin gelatik jantan dan betina adalah berdasarkan postur tubuh dan suara kicauannya. Burung gelatik jawa jantan cenderung lebih besar dibandingkan jenis betinanya. Sedangkan untuk suara kicauannya, burung gelatik jawa jantan lebih bervariasi dibanding yang betina yang terdengar lebih monoton.

Gelatik jawa termasuk kelompok burung granivoar karena makanan utmanya adalah biji tanaman dari family Gramine terutama padi (Oryza sativa L.) Selain padi, makanan burung gelatik adalah biji sorgum (Andropogon sorgum Brot), biji bambu (Bambusa spp), biji kerasi atau tembelekan (Lantana camara L), biji glagah (Saccharum spontaneum), dan biji bayam (Amaranthus spp).


Bayi gelatik jawa yang baru saja menetas


Burung gelatik sering bergabung menjadi kelompok besar di kebun tebu atau pohon tinggi dan menyerbu ladang jagung atau areal persawahan. Burung gelatik membuat sarangnya di cabang-cabang pohon ataupun di bawah atap rumah. Sarangnya terbuat dari rumput-rumput kering. Hal unik dari gelatik ini adalah saat berebut tempat sarang, mereka akan menggoyangkan badan dengan gerakan yang bisa dibilang rumit.

Baca juga : Strawberry Finch, Si Merah Totol yang Mempesona

Meskipun terbilang hama yang mengganggu para petani, namun sebuah filosofi mengibaratkan burung gelatik sebagai burung yang memiliki sifat sosial yang tinggi. Antara sesamanya dan juga dengan jenis burung lainnya seperti jenis burung bondol, tekukur, dan burung gereja.


Gelatik jawa bersama anak-anaknya


Gelatik jawa merupakan salah satu burung endemis Pulau Jawa dan Bali, meskipun begitu, spesies ini telah tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Diduga karena dibawa oleh para transmigran dari pulau Jawa dan Bali.

Umumnya gelatik jawa terlihat di sekitar area persawahan dan dianggap musuh para petani karena menjadi hama tanaman. Biji-bijian merupakan salah satu makanan kesukaan burung ini. Burung ini senang berkelompok dan cepat berpindah-pindah. Pipi putihnya menjadi ciri khasnya.


Gelatik jawa warna silver


Burung gelatik jawa menempati urutan kedua setelah Bondol (Lonchura spp) dari lima belas jenis burung ocehan Indonesia yang paling diminati di pasar Internasional. Akibatnya, beberapa tahun terakhir jumlah ekspor burung tersebut diperkirakan menurun drastis bersamaan dengan menurunnya populasi gelatik jawa di alam.

Gelatik jawa populer dijadikan sebagai satwa peliharaan, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga hingga luar negeri. Bahkan burung gelatik jawa ini kini bisa ditemui di pulau Hawai, Amerika Serikat.


Gelatik jawa warna putih


Gelatik jawa termasuk burung yang istimewa. Sebab penampilannya yang cantik telah mengilhami para penangkar di Eropa, khususnya Belanda, Belgia, dan Inggris, untuk menghasilkan berbagai mutasi warna yang cantik. Keindahan bulu, paduan warna, dan kicauan nyaringnya menjadi keistimewaan yang membawanya pada ancaman kepunahan.

Baca juga : Zebra Finch, Burung Pipit dengan Warna Bulu Bermotif Zebra

IUCN menetapkan burung ini dengan status genting (Endangered/EN). Disinyalir burung ini hampir menghilang dari habitatnya di Jawa dan Bali dan kini hanya terkonsentrasi di loksi-lokasi tertentu dengan populasi yang sangat kecil. Beberapa penelitian tentang ancaman terhadap spesies ini dan kondisi populasinya telah banyak dilakukan.


Gelatik jawa warna blorok


Saat ini semakin sulit menemukan gelatik jawa di alam. Penangkapan liar yang dilakukan untuk kepentingan bisnis, hilangnya habitat, dan terbatasnya ruang terbuka hijau menjadi alasan terjadinya penurunan populasi burung ini. Termasuk juga meningkatnya penggunaan pestisida di lahan pertanian. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Gelatik Jawa Burung Endemik Pulau Jawa dan Bali Kini Semakin Jarang Terlihat di Alam


Bondol Kepala Pucat, Mirip Bondol Haji Hanya Ada di Sulawesi dan Nusa Tenggara

Bondol Kepala-pucat (Lonchura pallida) merupakan burung pipit kecil endemik di Sulawesi dan Nusa Tenggara, Indonesia. Bondol Kepala-pucat m...