Minggu, 21 Desember 2025

Kenari Dada Lemon, Kicauan Merdunya Perpaduan Blackthroat dan Mozambik



Lemon-breasted Canary (Crithagra citrinipectus) juga dikenal sebagai kenari dada lemon atau kenari dada kuning merupakan spesies burung finch dalam famili Fringillidae. Burung ini ditemukan di Malawi, Mozambik, Afrika Selatan, Zambia, dan Zimbabwe. Habitat alaminya adalah sabana kering, semak belukar kering subtropis atau tropis, dan kebun pedesaan.

Kenari dada lemon diidentifikasi sebagai spesies pada tahun 1960 oleh Clancey dan Lawson di dekat Panda, Provinsi Inhambane, Mozambik Selatan. Sebelumnya para Ornitholog, menganggap lemon-breasted canary atau burung kenari dada kuning merupakan spesies tersendiri. Mereka pun bersepakat memberinya nama Serinus citrinipectus.

Namun sebagian ahli, terutama dari kalangan penangkar burung finch, meyakini kalau spesies ini merupakan hasil persilangan (crossing) alami antara Blackthroat/yellow-rumped seedeater (Serinus atrogularis) dan Mozambik/yellow-fronted canary (Serinus mozambicus). Faktanya, kicauan kenari dada kuning memang sangat merdu, dan terdengar seperti perpaduan suara Blackthroat dan Mozambik.


Kenari dada lemon burung berkicau asal Benua Afrika


Penelitian yang melibatkan analisis DNA mitokondria menunjukkan bahwa spesies ini, bersama dengan S. leucopygia, S. mozambicus, dan S. dorsostriatus, termasuk dalam genus terpisah. Lemon-breasted Canary telah diketahui hanya berkerabat jauh dengan anggota Afrika lainnya dari genus Serinus saat ini.

Baca juga : Blackthroat, Bangsa Burung Penyanyi dari Benua Afrika yang Mempesona

Analisis filogenetik menggunakan sekuens DNA mitokondria dan nuklir menunjukkan bahwa genus tersebut polifiletik. Oleh karena itu, genus tersebut dipecah dan sejumlah spesies, termasuk kenari dada lemon, dipindahkan ke genus Crithagra.


Kenari dada lemon di habitat alaminya, sabana kering


Meskipun nama umum Lemon-breasted Canary menunjukkan bahwa setiap kenari dada lemon memang memiliki tenggorokan/dada kuning, hal ini tidak berlaku antara jantan dan betina, sehingga mudah dibedakan. Hanya jantan yang memiliki bulu kuning khas di bagian dada.

Lemon-breasted Canary betina sebagian besar memiliki bulu berwarna krem dan cokelat, dengan tanda kepala yang kurang jelas. Selain itu, burung betina memiliki warna bulu yang cenderung lebih kusam daripada burung jantan. Warna bulu di bagian kepala burung jantan juga lebih tegas, abu-abu, dengan dua garis kuning pada kedua sisi dahinya, serta pada bulu yang menutupi cuping telinga.

Warna punggung burung jantan cokelat keabu-abuan, dengan goresan hitam. Bulu sayap kehitaman, dengan garis-garis putih yang tipis. Corak sayap ini juga dimiliki burung betina. Baik burung jantan maupun betina memiliki ekor pendek, dan bagian pantat yang berwarna kuning cerah. Dan paruh Lemon-breasted Canary mempunyai dua warna, bagian atas berwarna cokelat tua/hitam daripada bagian bawah.

Selain itu, burung jantan juga memiliki bercak putih dan kuning di pipi serta dua titik kuning dan putih di atas paruhnya. Anak burung dari spesies ini menunjukkan tepi paruh kuning. Tidak ada subspesies yang diketahui, namun ada sedikit perbedaan antara kenari dari berbagai daerah.


Kenari dada lemon sedang mencari makanan


Kenari dada lemon hidup di Afrika bagian tenggara, jauh di selatan khatulistiwa, dan terkadang di wilayah yang sama dengan tempat Serinus mozambicus (umumnya dikenal sebagai green singer) juga ditemukan. Kenari dada lemon hidup di wilayah yang sebagian besar kering seperti padang rumput dengan vegetasi rendah yang sporadis dan di perbatasan kawasan hutan.

Baca juga : Mozambik, Burung Kenari Kuning Afrika Bersuara Merdu dan Berumur Panjang

Burung ini membangun sarangnya sebagian besar (dan lebih disukai) di spesies palem (Hyphaene coriacea). Menggunakan serat cokelat palem untuk membangun bagian luar sarang, sementara bagian dalamnya dilapisi dengan bahan yang lebih lembut. Sarangnya terbuat dari ijuk, kelopak bunga, dan jaring laba-laba yang berjajar rapi sepanjang sulur dari daun palem.


Kenari dada lemon hidup monogami


Di alam liar, sebagian besar burung finch membuat sarang pada tanaman yang dekat dengan permukiman penduduk. Tetapi kenari dada kuning justru selalu membuat sarang yang jauh dari permukiman penduduk, atau jauh dari aktivitas manusia. Bahkan Lemon-breasted Canary tidak mau membuat sarang di semak-semak atau tanaman/pohon yang secara umum. Perilaku ini diduga untuk menghindari serangan predator seperti kucing liar dan kera/monyet.

Selama musim kawin, burung jantan adalah penyanyi yang sibuk. Lagunya singkat, cepat, dan relatif tidak bernada dan terjadi dalam serangkaian kicauan pendek naik dan turun. Musim kawin Kenari dada lemon terjadi antara Desember dan Mei, tetapi aktivitas utama adalah pada bulan Januari dan Februari.

Burung-burung ini monogami dan cukup menyendiri dan teritorial. Proses pendekatannya secara umum kurang kompleks daripada kebanyakan finch lainnya, sebagian besar melibatkan nyanyian dan postur tubuh jantan yang terangkat dengan sayap yang sedikit terbentang untuk menarik betina.

Induk betina rata-rata akan bertelur sebanya 3 butir, dan lama pengeraman 12 – 14 hari. Anakan sudah bisa meninggalkan sarangnya pada umur 14 – 16 hari, dan mulai belajar hidup mandiri beberapa minggu kemudian. Bagi penggemar burung finch (keluarga Fringillidae) di Indonesia, Lemon-breasted Canary memang belum sepopuler Blackthroat maupun Mozambik.


Kenari dada lemon sedang meloloh anak-anaknya


Burung ini sesekali masuk ke Indonesia bersama burung impor lainnya. Tidak sedikit pula sobat kicaumania yang sengaja memesan burung jenis ini dari importir. Ini karena suara yang dimilikinya memang lebih ngerol, dengan volume yang keras. Di beberapa negara penghasil kenari dan finch, lemon-breasted canary kerap dijadikan burung media untuk melatih burung lainnya, atau bahasa popular di Indonesia adalah sebagai burung masteran.

Baca juga : Edel Sanger, Suaranya yang Merdu dan Ngerol Cocok untuk Masteran Semua Jenis Finch

Populasi kenari dada lemon secara keseluruhan mengalami penurunan, meskipun relatif ringan. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh tekanan terhadap pohon palem tempat kenari dada lemon biasa tinggal (yang digunakan untuk pembuatan furnitur) serta penangkapan untuk perdagangan burung.


Kenari dada lemon kerap dijadikan burung masteran


Meskipun demikian, di beberapa lokasi seperti Lembah Shire yang gundul di Malawi, populasi kenari dada lemon tampaknya meningkat. Khususnya di Lembah Shire, hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh kemampuan adaptasinya terhadap beragam habitat padang rumput.

Meskipun jangkauan geografisnya terbatas dan populasinya secara keseluruhan menurun, burung ini masih dianggap sebagai spesies “beresiko rendah” dalam kategori Daftar Merah IUCN saat ini. Jumlah populasi totalnya tidak diketahui, tetapi jauh di atas kisaran “rentan” yaitu <10.000 individu dewasa. Spesies burung ini hidup dan berkembang biak di area seluas 49.800 km². (Ramlee)


Sumber : remen.id

Kenari Dada Lemon, Kicauan Merdunya Terdengar seperti Perpaduan Suara Blackthroat dan Mozambik


Rabu, 10 Desember 2025

Gelatik Timor, Satwa Endemik Nusa Tenggara Timur Kerabat Dekat Gelatik Jawa



Gelatik Timor (Padda fuscata) merupakan satu-satunya spesies di Indonesia yang memiliki hubungan kekerabatan paling dekat dengan Gelatik Jawa (Padda oryzivora). Burung Gelatik Timor merupakan satwa endemik yang dijumpai hidup terbatas di Nusa Tenggara Timur.

Burung Gelatik Timor merupakan satwa endemik yang hanya ditemukan hidup di wilayah Nusa Tenggara Timur, meliputi Pulau Timor, Pulau Roti, dan Pulau Semau. Di dunia Internasional burung Gelatik Timor ini dikenal sebagai Timor Sparrow.

Gelatik Jawa


Gelatik Timor dikenali sebagai burung hias di seluruh dunia, tetapi terancam punah akibat hilangnya habitat dan perburuan. Burung Gelatik Timor ini ternyata sudah lama dipelihara dan diternakkan di Eropa dan Amerika Serikat.

Baca juga : Gelatik Jawa, Burung Endemik Pulau Jawa dan Bali yang Kian Jarang Terlihat

Sayangnya, masyarakat di Indonesia selaku pemilik plasma nutfah burung Gelatik Timor ini, malah jarang memikirkan upaya penangkarannya. Untuk memenuhi permintaan penghobi burung hias, para pedagang mengambilnya langsung dari alam.

Gelatik Timor kerabat dekat Gelatik Jawa


Postur tubuh burung Gelatik Timor relatif lebih kecil dibandingkan dengan postur tubuh Gelatik Jawa. Dimana Gelatik Timor mempunyai panjang tubuh sekitar 12-14 cm. Meskipun ukuran tubuhnya lebih kecil, Gelatik Timor memiliki banyak kemiripan dengan Gelatik Jawa.

Burung Gelatik Timor mempunyai ciri khas tudung kepala dan tenggorokan berwarna hitam, serta pipi putih, sehingga terlihat mencolok. Leher dan dada bagian atas cokelat, perut sampai bagian tunggir putih, serta paruh dan kaki abu-abu.

Kawanan Gelatik Timor di alam liar


Burung Gelatik Timor usia remaja mempunyai warna bulu alis kuning tua samar, tenggorokan putih, serta corak wajah lebih sedikit. Selain posturnya yang lebih kecil dibandingkan Gelatik Jawa, burung eksotis ini memiliki paruh kelabu keperakan, sedangkan Gelatik Jawa memiliki paruh merah muda.

Baca juga : Gelatik Wingko, Burung Kicauan Bertubuh Mungil yang Pernah Jadi Primadona

Burung ini biasanya menghuni savana, padang penggembalaan yang pohonnya jarang, semak, dan lahan budidaya di dataran rendah sampai perbukitan dengan ketinggian 720 meter dari permukaan laut (dpl). Burung Gelatik Timor menyukai daerah terbuka dengan banyak rerumputan dan dekat aliran air. Burung ini sangat menghindari hutan lebat.

Seekor Gelatik Timor yang tengah mencari makanan


Umumnya Gelatik Timor terlihat sendirian, atau dalam kelompok kecil sampai 5 individu. Kawanan Gelatik Timor bisa terlihat 30-50 ekor walau kadang-kadang dijumpai rombongan sampai ratusan atau ribuan. Namun, sesekali terlihat pula bergabung dengan burung pemakan biji-bijian lain saat mencari makanan.

Burung Gelatik Timor mencari makanan di permukaan rumput, pepohonan berbiji kecil, sawah padi, vegetasi di tepi sungai, dan hutan ekaliptus. Rangkaian ocehan “chip.. chip.. chip.. chip… – chip.. chip.. chip…” yang cepat atau tidak beraturan ketika bernyanyi dalam kelompoknya.

Gelatik Timor lebih menyukai daerah terbuka


Meski tidak begitu populer di kalangan kicau mania Indonesia, keberadaan burung gelatik timor kini makin terancam punah akibat keterbatasan lahan untuk berkembang biak dan penggunaan pestisida berlebih di persawahan. Akikabtnya, burung ini kesulitan mencari sumber makanan dan persedian air layak minum.

Baca juga : Finch, Kelompok Burung Kecil dengan Pesona Menyenangkan

Di Indonesia, sebagian besar burung Gelatik Timor yang dipelihara berasal dari tangkapan hutan yang masih liar. Sebab belum ada catatan akurat mengenai penghobi yang sukses menangkarkan burung ini. Kalaupun ada, tentu jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

Gelatik Timor yang kian terancam keberadaannya


Burung Gelatik Timor sudah termasuk dalam daftar merah Badan Konservasi Internasional (IUCN), dengan status Hampir Terancam (NT). Tidak ada cara lain untuk menyelamatkannya, kecuali mengurangi angka perburuan di alam liar, sekaligus berupaya menangkarnya. Dengan demikian, upaya penangkaran harus lebih digiatkan dan menghentikan perburuan liar. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Gelatik Timor, Burung Endemik Nusa Tenggara Timur yang Kian Terancam


Bondol Kepala Pucat, Mirip Bondol Haji Hanya Ada di Sulawesi dan Nusa Tenggara

Bondol Kepala-pucat (Lonchura pallida) merupakan burung pipit kecil endemik di Sulawesi dan Nusa Tenggara, Indonesia. Bondol Kepala-pucat m...