Kamis, 26 Februari 2026

Bondol Kepala Pucat, Mirip Bondol Haji Hanya Ada di Sulawesi dan Nusa Tenggara



Bondol Kepala-pucat (Lonchura pallida) merupakan burung pipit kecil endemik di Sulawesi dan Nusa Tenggara, Indonesia. Bondol Kepala-pucat memiliki penampilan yang sangat mirip dengan Bondol Haji atau Bondol Kepala-putih (Lonchura maja).

Namun Bondol kepala-pucat dengan Bondol Haji memiliki daerah yang sebaran terpisah. Bondol Haji juga memiliki warna tubuh berwarna lebih gelap, coklat di bagian bawah tubuh dan penutup ekor bagian bawah berwarna hitam dengan warna putih pada kepala lebih banyak.


Bondol kepala-pucat endemik Sulawesi dan Nusa Tenggara yang mirip Bondol Haji


Bondol kepala-pucat dewasa memiliki warna tengkuk dan dada lebih abu-abu (atau coklat kemerahan), bagian bawah tubuh berwarna kuning peach, coklat kemerahan pada penutup ekor atas dan sisi tubuh. Bondol kepala-pucat muda sangat mirip dengan Bondol Haji muda, tetapi berwarna bulu lebih putih pada bagian bawah dan tidak ada warna coklat matang pada tunggirnya.

Baca juga : Bondol Haji, Pipit Kecil Bersongkok Putih yang Kian Jarang Terlihat

Genus Lonchura pertama kali diperkenalkan oleh Naturalis berkebangsaan Inggris William Henry Sykes pada tahun 1832 dengan \ menamai Bondol Peking Lonchura punctulata. Lonchura berasal dari bahasa Yunani “lonkhe” yang berarti kepala tombak dan “oura” yang bermakna ekor.


Bondol Haji atau Bondol Kepala-putih (Lonchura maja)


Bondol Kepala-pucat dideskripsikan oleh Wallace pada tahun 1863 dan diberinama Lonchura pallida. Kata “pallida” berasal dari bahasa Latin yang berarti pucat. Bondol kepala-pucat panjang tubuh 11 cm. Kepala dan dada putih tubuh atas kecoklatan, tunggir dan ekor kadru. Burung remaja cenderung lebih kusam.

Sebagaimana jenis burung pemakan biji-bijian lainnya, Bondol Kepala-pucat menyukai habitat terbuka seperti rawa-rawa, sawah, padang rumput, lahan pertanian, tepi perkebunan, dan semak belukar pada dataran rendah hingga elevasi 1400 mdpl.


Bondol Kepala-pucat menyukai habitat terbuka


Bondol Kepala-pucat hidup berkelompok, sering berbaur dengan spesies bondol lain. Burung ini Mengeluarkan suara bernada tinggi lemah “weee” dan nada metalik “wit-wit-wit”. Bondol Kepala-pucat memakan biji-bijian rumput dan biji-bijian kecil lainnya.

Baca juga : Bondol Hijau, Finch Cantik yang Jarang Dilirik

Kebiasaan dan perilaku seperti munia lain-lainnya termasuk sering memakan bulir-bulir padi di lahan pertanian. Bondol Kepala-pucat termasuk jenis burung yang memiliki sebaran terbatas. Sebarannya hanya ada di kawasan Wallacea (Sulawesi dan Nusa Tenggara).


Bondol Kepala-pucat hidup berkelompok


Yakni mencakup Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan hingga pulau Madu dan Kalaotoa di Laut Flores. Bondol Kepala-pucat juga terlihat di Nusa Tenggara mencakup pulau Lombok, Flores, Rote, Alor, Sawu, Dao, Kisar, Romang, Sermata dan Babar.

Burung ini sering terlihat terbang dalam kelompok kecil atau bergabung dalam kelompok besar bersama-sama dengan Bondol Taruk atau Bondol Peking melintasi daerah terbuka seperti sawah atau padang rumput untuk mencari biji-bijian. Suara chiiiip, chiiip, chiiip atau tsiiip, tsiiip, tsiiip kerap terdengar saat terbang.


Sepasang Bondol Kepala-pucat sedang mencari makan berupa biji-bijian rumput


Bondol Kepala-pucat memiliki wilayah jelajah yang luas dan populasinya melimpah. Bondol Kepala-pucat juga tidak termasuk jenis burung yang dilindungi. Burung ini dikategorikan beresiko rendah untuk punah dalam waktu dekat (Least Concern) oleh IUCN.

Baca juga : Pipit Matari, Pipit Cantik dari Tanah Papua

Bondol Kepala-pucat juga tidak tercantum dalam daftar Appendix CITES. Meski demikian, Populasi Bondol Kepala-pucat cenderung mengalami penurunan. Burung ini kerap ditangkap dengan jaring dan dijual ke murid-murid Sekolah Dasar dengan harga murah.


Bondol Kepala-pucat muda


Bondol Kepala-pucat juga seringkali ditembak dengan senapan angin karena kerap memakan bulir-bulir padi di sawah. Berbagai jenis hewan pemangsa seperti kucing, burung Alap-Alap, dan Elang juga diketahui memangsa burung ini. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Bondol Kepala Pucat, Pipit Kecil Kepala Putih Endemik Sulawesi dan Nusa Tenggara


Kamis, 01 Januari 2026

Bondol Haji, Pipit Kecil Bersongkok Putih yang Kian Jarang Terlihat



Bondol Haji (Lonchura maja) merupakan salah satu jenis burung pipit yang cukup unik dan mudah dikenali. Burung ini sering dipanggil emprit kaji atau pipit haji. Diberi nama bondol haji karena kepalanya berwarna putih, seperti orang pakai peci putih haji. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama White-headed Munia.

Ukuran tubuh bondol haji hanya sekitar 11 cm (seukuran telunjuk orang dewasa). Burung bondol haji ini memiliki warna bulu dasar cokelat putih seperti burung bondol oto-hitam (L. ferruginosa) tetapi dengan warna yang lebih terang. Seluruh kepala dan tenggorokannya sendiri berwarna putih.


Bondol oto-Hitam (Lonchura ferruginosa)


Burung bondol haji muda memiliki bulu berwarna cokelat di bagian atas, sementara bagian bawah dan wajahnya berwarna kuning tua. Sementara bulu wajah berwarna kekuningan. Burung bondol haji muda juga dapat dilihat dari warna keputihan pada bagian belakang dan bawah telinga.

Baca juga : Pipit, Burung Pemakan Bijian dengan Warna Menarik yang Sering Dianggap Hama

Iris burung bondol haji bercorak cokelat, paruhnya berwarna abu-abu kebiruan, sedangkan kakinya kebiruan pucat. Bentuk mata bondol haji bulat telur atau agak bundar dengan corak hitam pekat. Berkat keunikan warnanya, banyak orang tertarik memelihara burung pipit haji.


Bondol Haji menyukai daerah terbuka


Habitatnya tidak jauh berbeda dengan jenis bondol lain, bondol haji menyukai habitat terbuka, sering ditemui di lingkungan pedesaan dan kota, terutama di dekat persawahan atau tegalan. Burung ini juga menyukai lahan budidaya bersemak terbuka, kolam ikan, rawa-rawa, tepi jalan, tepian hutan terbuka dengan pohon yang telah ditebang, padang rumput, lapangan terbuka bervegetasi dan kebun.

Sering bertengger untuk bermalam dan bersarang di pohon-pohon, tegakan palem, pinang atau semak yang tinggi. Di Sumatera, Jawa dan Bali, burung ini terdistribusi sampai pada kawasan berketinggian 1.500 meter di atas laut.

Dibandingkan jenis bondol lainnya, bondol haji memiliki sebaran lebih terbatas di Asia Tenggara. Habitat burung bondol haji berada di wilayah tropis. Populasinya menyebar mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi di Indonesia, serta Thailand, dan Vietnam Selatan. Bahkan, spesies ini telah diperkenalkan sampai ke Okinawa dan Osaka di Jepang.

Bondol haji akan membentuk kawanan dalam jumlah besar saat musim panen padi. Namun berpasangan dan terpencar-pencar saat musim kawin. Sering teramati bergerombol memakan bulir biji-bijian di semak rerumputan atau bahkan turun ke atas tanah. Kelompok ini umumnya lincah dan bergerak bersama-sama, sambil terus berbunyi-bunyi saling memanggil.


Bondol Haji menyukai bulir-bulir padi


Karena itu bagi sebagian orang spesies bondol haji dianggap sebagai hama. Padahal burung ini dapat menjadi perameter kualitas lingkungan, mengingat bondol haji cuma tinggal di area yang masih asri saja. Bondol haji berkembangbiak sepanjang tahun. Burung ini memiliki sarang berupa anyaman.

Baca juga : Bondol Hijau, Finch Cantik yang Jarang Dilirik

Sarang yang dibangun terbuat dari rerumputan yang ditumpuk serta tergulung seperti bola atau botol, diletakkan tersembunyi di antara daun-daun dan ranting. Bondol haji biasanya membuat sarang di batang pohon padi, tetapi tidak jarang juga ada yang membuat sarang di sela-sela tandan buah pisang.


Seekor Bondol Haji sedang membangun sarangnya


Masa kawin burung bondol haji di Asia Tenggara berlangsung umumnya antara Januari hingga September, dengan musim kawin spesifik di Jawa tercatat pernah terjadi pada bulan Februari, saat burung ini membentuk pasangan dan membangun sarang.

Telurnya berwarna putih sebanyak 4-6 butir dan akan menetas setelah dierami selama sekitar 14 hari. Baik induk jantan maupun betina akan mengerami telur-telur tersebut secara bergantian. Setelah menetas, anakan bondol haji akan tetap berada di dalam sarang dan dirawat serta diberi makan oleh induknya selama kurang lebih 15 hari.

Bondol Haji termasuk burung pemakan biji-bijian (granivore) atau seed eater terutama padi-padian dan biji dari berbagai jenis rumput lainnya. Walaupun bondol dewasa merupakan pemakan biji, namun anak-anak bondol lebih sering diberi makan serangga-serangga kecil seperti ulat dan belalang.

Kebiasaan memberi makan serangga mungkin sebagai mekanisme untuk mempercepat pertumbuhan anak, karena serangga memiliki kadar protein yang jauh lebih tinggi dibandingkan biji-bijian. Setelah sekitar 15 hari, anakan burung bondol haji biasanya sudah cukup kuat untuk terbang dan mulai belajar mencari makan sendiri di lingkungan sekitar sarang.


Anakan Bondol Haji setelah berumur 15 hari siap meninggalkan sarangnya


Walau begitu, terkadang anakan bondol haji masih akan didampingi oleh induknya. Anak bondol haji yang masih belajar mencari makan memiliki warna tubuh yang berbeda dengan bondol haji dewasa. Warnanya hanya coklat polos diseluruh tubuh, anakan bondol haji belum memiliki kepala dan leher putih seperti kedua induknya.

Baca juga : Pipit Matari, Pipit Cantik dari Tanah Papua 

Setelah beberapa lama, secara berangsur-angsur akan tumbuh bulu putih di kepala dan leher menggantikan bulu coklatnya yang rontok. Bondol haji dianggap dewasa (mature) ketika warna tubuhnya telah lengkap, yaitu memiliki kepala dan leher putih seperti pak haji. Populasi burung ini cukup melimpah sehingga oleh IUCN dikategorikan beresiko rendah dari kepunahan (Least Concern). Tidak termasuk dalam daftar Appendix CITES.


Bondol Haji remaja masih minta diloloh induknya


Genus Lonchura pertamakali diperkenalkan oleh Naturalis berkebangsaan Inggris William Henry Sykes pada tahun 1832 untuk menamai Bondol Peking Lonchura punctulata. Lonchura berasal dari bahasa Yunani “lonkhe” yang berarti kepala tombak dan “oura” yang bermakna ekor.

Burung bondol haji terdiri dari 2 subspesies, yaitu Lonchura maja maja, tersebar mulai dari Semenanjung Malaysia, Singapura, Sumatera, Jawa, Bali hingga Sulawesi. Diintroduksi ke Okinawa dan Osaka di Jepang. Populasi di Kalimantan kemungkinan berasal dari burung peliharaan yang lepas. Dan Lonchura maja vietnamensis, tersebar di Thailand dan Vietnam selatan. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Bondol Haji, Spesies Pipit Berpenampilan Unik


Bondol Kepala Pucat, Mirip Bondol Haji Hanya Ada di Sulawesi dan Nusa Tenggara

Bondol Kepala-pucat (Lonchura pallida) merupakan burung pipit kecil endemik di Sulawesi dan Nusa Tenggara, Indonesia. Bondol Kepala-pucat m...