Rabu, 29 Oktober 2025

Gelatik Wingko, Burung Kicauan Bertubuh Mungil yang Pernah Jadi Primadona



Gelatik Wingko (Parus cinereus cinereus) merupakan jenis burung kicauan bertubuh mungil, dengan warna bulu sangat kontras yang memiliki suara memikat hati. Sayang kini sudah jarang lagi terdengar di pekarangan rumah atau lahan perkebunan seperti beberapa tahun lalu. Nasib gelatik wingko tidak jauh berbeda dari burung ciblek, pleci, dan gelatik Jawa.

Meski namanya sama-sama gelatik, burung gelatik wingko atau sering juga disebut gelatik batu tidak ada hubungan kerabat dengan burung gelatik Jawa. Kalau gelatik Jawa adalah sebangsa burung pipit atau bondol, yang makanannya biji-bijian sedangan gelatik wingko makannya serangga kecil.

Burung gelatik wingko perawakannya kecil dan punya kicau bagus yang tidak kalah dengan burung kicauan jenis lainya. Ada beberapa kerancuan mengenai gelatik wingko. Masih banyak yang menganggap gelatik wingko berbeda dari gelatik batu. Selain itu, para ornitholog di dunia pun terkadang meletakkan gelatik batu yang ada di Indonesia sebagai subspesies dari gelatik batu sejati (Parus major), dengan nama ilmiah Parus major cinereus.


Gelatik Jawa


Tetapi ada juga yang menganggapnya spesies tersendiri, Parus cinereus, dengan beberapa subspesies di dalamnya. Masih banyak yang menganggap gelatik batu dan gelatik wingko adalah spesies yang berbeda. Ini bisa disimak dari berbagai informasi di dunia maya. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa gelatik wingko sebenarnya nama lain dari gelatik batu.

Baca juga : Gelatik Jawa, Burung Endemik Pulau Jawa dan Bali yang Kian Jarang Terlihat

Mengacu pendapat para ahli yang menyatakan bahwa gelatik wingko adalah julukan yang diberikan masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi untuk burung gelatik batu yang hidup di kawasan tersebut. Dengan demikian, gelatik wingko merupakan salah satu dari puluhan jenis gelatik batu yang ada di seluruh dunia.


Gelatik Batu sejati (Parus major)


Jadi gelatik batu, adalah semua spesies yang termasuk dalam genus Parus. Secara keseluruhan ada 24 spesies dalam genus Parus di seluruh dunia. Di antara spesies gelatik batu tersebut, yang paling popular adalah gelatik batu sejati (Parus major), yang terdiri atas 14 subspesies. Spesies ini banyak dijumpai di Eropa, Asia Baratdaya, Timur Tengah, dan Afrika.

Indonesia memiliki tiga jenis gelatik batu, salah satunya adalah gelatik wingko. Dulu ketiganya dimasukkan sebagai salah satu subspesies dari Parus major, dengan nama ilmiah Parus major cinereus. Tetapi mengingat beberapa perbedaan morfologi dan wilayah persebarannya, ketiga jenis gelatik batu asal Indonesia ini dikelompokkan dalam spesies tersendiri dengan nama Parus cinereus, tetapi hanya menjadi subspesies.

Parus cinereus terdiri atas 13 subspesies tersebut, tiga jenis di antaranya terdapat di Indonesia, yaitu Parus cinereus cinereus, habitatnya di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Parus cinereus ambiguus, habitatnya di Sumatera (dan Semenanjung Malaysia) dan Parus cinereus sarawacencis : habitat di Pulau Kalimantan, terutama di wilayah barat laut.

Gelatik batu yang ada di lereng Merapi sebenarnya sama seperti gelatik batu di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Artinya, bisa juga disebut sebagai gelatik wingko. Gelatik batu di Sumatera dan Kalimantan masih satu spesies dengan gelatik batu di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, tetapi memiliki beberapa perbedaan kecil sehingga ditetapkan sebagai subspesies tersendiri.

Peta penyebaran burung gelatik batu


Subspesies ini juga bisa disebut sebagai gelatik batu, tetapi (mestinya) bukan termasuk gelatik wingko jika pengertian gelatik wingko adalah Parus cinereus cinereus. Perlu diketahui, hampir semua jenis gelatik batu yang termasuk dalam spesies Parus cinereus hanya dijumpai di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sebagian Asia Baratdaya (Afghanistan, Turkmenistan, Tajikistan), serta tidak dijumpai di Eropa maupun Afrika.

Baca juga : Pipit Matari, Pipit Cantik dari Tanah Papua

Jadi gelatik wingko sebenarnya sama dengan gelatik batu, terutama gelatik batu yang ada di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Tetapi gelatik wingko maupun dua jenis gelatik batu khas Indonesia berbeda dari gelatik batu sejati (great tit) yang banyak dijumpai di Eropa. Gelatik batu di Indonesia, menurut para ornitholog, tidak termasuk dalam kelompok great tit, tetapi cinereous tit (istilah dalam bahasa Inggris menggunakan kata cinereous, untuk nama latin spesies tetap cinereus).


Gelatik Wingko jantan dan betina


Burung gelatik wingko jantan memiliki garis hitam yang tegas, lebar, dan memanjang hingga ke daerah sekitar kloaka (vent). Makin dewasa, makin tebal pula garis hitam tersebut. Sedangkan gelatik wingko betina memiliki garis hitam yang sempit (tidak lebar), dengan warna hitam yang agak memudar, dan garis tersebut cenderung putus-putus. Penampilan burung muda (jantan dan betina) mirip dengan gelatik wingko betina dewasa.

Burung ini mempunyai suara kicauan yang recet dan bervariasi. Ciri khasnya adalah suara “wucit” yang dibawakannya berulang-ulang. Suara tersebut seakan-akan menjadi trade mark bagi gelatik batu, sebagaimana suara ngalas pleci dan ngerolnya anis kembang. Kicauan ini akan semakin intens selama musim kawin.

Pada masa berkembangbiak induk betina bertelur sebanyak 4 – 7 butir, burung jantan akan berjaga di luar sarang, atau mencari dan memberi makan burung betina yang sedang mengerami telur. Setelah dierami induk betina selama 12 – 15 hari, telur-telur akan menetas menjadi piyikan. Pada tahapan ini, kedua induk akan merawat dan memberi makan anak-anaknya.

Pada masa itu pula, kedua induk akan bergotong-royong mengeluarkan kotoran dalam sarang, agar anak-anaknya merasa nyaman dan sarang bisa terhindar dari parasit atau bakteri. Burung gelatik wingko dikenal sangat menjaga kesehatan anak-anaknya. Ini terbukti dari penelitian di mana burung dari jenis ini juga menyimpan puntung rokok di dalam sarangnya, guna mencegah parasit masuk ke sarang mereka.


Gelatik Wingko sedang memangsa ulat


Setelah berusia 16 – 22 hari, burung muda mulai meninggalkan sarangnya, meski belum mampu mencari makan sendiri. Namun beberapa hari kemudian, biasanya umur 25 hari, mereka sudah bisa mandiri dan bisa dipisahkan dari kedua induknya. Gelatik wingko dikenal sangat produktif. Sekitar 1 minggu setelah anak-anaknya mandiri, induk betina akan bertelur lagi. Tetapi kondisi tubuh indukan sebenarnya mulai melemah.

Baca juga : Bondol Hijau, Finch Cantik yang Jarang Dilirik

Pamor burung gelatik wingko sempat berkibar pada tahun 2008 hingga tahun 2010. Pasalnya, burung ini mudah beradaptasi dan cepat bunyi ketimbang jenis burung lokal lainnya. Suaranya nyaring, dengan cerecetan panjang-panjang, serta nafas yang kuat. Selain bisa dimaster dengan jenis burung lainnya seperti burung gereja, gelatik wingko juga bisa dijadikan master andal untuk kenari.


Gelatik Wingko di dalam sarangnya


Untuk berkomunikasi dengan sesama gelatik wingko, burung ini memiliki jenis nyanyian yang berbeda-beda. Karena itulah, gelatik wingko dikenal memiliki beragam suara yang terjadi karena setiap suara yang dinyanyikan memiliki fungsi yang berbeda.

Di masa jayanya, gelatik wingko sempat dilombakan baik dalam kelas tersendiri atau masuk dalam kelas campuran lokal. Kini pamornya sebagai burung lomba telah pudar, namun masih banyak dipelihara sebagai salah satu masteran andal untuk kenari dan jenis burung lainnya, atau sekadar hiburan di rumah.


Gelatik Wingko pernah populer di kalangan kicau mania Indonesia


Salah satu hal yang membuat burung ini makin populer adalah perawatan yang relatif mudah, sifatnya yang cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, serta suaranya yang kerap dijadikan master bagi burung-burung berkicau lainnya, namun kini sangat susah mendapatkan burung cantik ini. Boleh jadi, apa yang terjadi saat ini merupakan imbas dari booming gelatik wingko di masa lalu.

Pada saat itu, perburuan liar marak terjadi untuk memenuhi permintaan penggemar gelatik wingko. Akibatnya populasinya di alam liar mengalami penurunan drastis, dan itu mempengaruhi pasokan di pasar burung, sehingga tidak mudah lagi untuk mendapatkan gelatik wingko seperti dulu. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Gelatik Wingko, Jenis Burung Kicauan Bertubuh Mungil yang Sempat Berkibar di Tahun 2008


Minggu, 26 Oktober 2025

Gelatik Jawa, Burung Endemik Pulau Jawa dan Bali yang Kian Jarang Terlihat



Gelatik Jawa (Padda oryzivora) pertama kali ditemukan oleh Linnaeus pada tahun 1758 dan diberi nama ilmiah Loxia oryzivora. Namun sejalan dengan kemajuan taksonomi burung, nama ilmiah tersebut diganti menjadi Padda oryzivora. Sementara itu, gelatik jawa di Inggris dikenal dengan naman Java Sparrow dan di Belanda dikenal dengan sebutan Rijstuogel.

Indonesia mempunyai keanekaragaman jenis burung ysng sangat tinggi. Sekitar 1.712 jenis burung tercatat hidup di Indonesia dan sebanyak 493 jenis burung dikategorikan sebagai jenis endemik. Meskipun Indonesia memiliki banyak ragam jenis burung yang unik, akan tetapi negara ini memegang daftar panjang jenis burung yang terancam kepunahan (Birdlife International 2017).


Koloni gelatik jawa di alam liar


Salah satu dari jenis burung yang dianggap kian langkah adalah jenis burung gelatik jawa. Gelatik jawa merupakan burung dari famili Estrildidae yaitu salah satu gfamili yang sangat besar dan tersebar di Australia, Asia, Afrika, dan Eropa, dimana mereka menyukai lahan pertanian, pekarangan rumah, dan wilayah perkotaan.

Baca juga : Gould Amadin, Burung Pipit Menawan dari Aussy

Secara bentuk fisik gelatik jawa memiliki ciri khas yang menonjol. Ukurannya kecil, dengan panjang 15 cm berekor pendek, dan mempunyai paruh tebal pendek yang berguna untuk memakan bijian.


Sepasang gelatik jawa terlihat di dahan sebuah pohon


Burung gelatik jawa yang masih muda umumnya berwarna coklat, sedangkan untuk burung gelatik dewasa mempunyai ciri-ciri yaitu bulu berwarna abu-abu, perut berwarna cokelat kemerahan, kaki merah muda dan lingkaran merah di sekitar matanya.

Gelatik jawa termasuk burung yang berpasangan, namun sangatlah sulit untuk membedakan jenis burung gelatik jawa jantan dan betina (monoformik). Karena mereka memiliki bentuk yang hampir serupa.


Seekor gelatik jawa membuat sarang di lubang pohon


Dari sumber informasi yang didapat, cara umum untuk membedakan jenis kelamin gelatik jantan dan betina adalah berdasarkan postur tubuh dan suara kicauannya. Burung gelatik jawa jantan cenderung lebih besar dibandingkan jenis betinanya. Sedangkan untuk suara kicauannya, burung gelatik jawa jantan lebih bervariasi dibanding yang betina yang terdengar lebih monoton.

Gelatik jawa termasuk kelompok burung granivoar karena makanan utmanya adalah biji tanaman dari family Gramine terutama padi (Oryza sativa L.) Selain padi, makanan burung gelatik adalah biji sorgum (Andropogon sorgum Brot), biji bambu (Bambusa spp), biji kerasi atau tembelekan (Lantana camara L), biji glagah (Saccharum spontaneum), dan biji bayam (Amaranthus spp).


Bayi gelatik jawa yang baru saja menetas


Burung gelatik sering bergabung menjadi kelompok besar di kebun tebu atau pohon tinggi dan menyerbu ladang jagung atau areal persawahan. Burung gelatik membuat sarangnya di cabang-cabang pohon ataupun di bawah atap rumah. Sarangnya terbuat dari rumput-rumput kering. Hal unik dari gelatik ini adalah saat berebut tempat sarang, mereka akan menggoyangkan badan dengan gerakan yang bisa dibilang rumit.

Baca juga : Strawberry Finch, Si Merah Totol yang Mempesona

Meskipun terbilang hama yang mengganggu para petani, namun sebuah filosofi mengibaratkan burung gelatik sebagai burung yang memiliki sifat sosial yang tinggi. Antara sesamanya dan juga dengan jenis burung lainnya seperti jenis burung bondol, tekukur, dan burung gereja.


Gelatik jawa bersama anak-anaknya


Gelatik jawa merupakan salah satu burung endemis Pulau Jawa dan Bali, meskipun begitu, spesies ini telah tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Diduga karena dibawa oleh para transmigran dari pulau Jawa dan Bali.

Umumnya gelatik jawa terlihat di sekitar area persawahan dan dianggap musuh para petani karena menjadi hama tanaman. Biji-bijian merupakan salah satu makanan kesukaan burung ini. Burung ini senang berkelompok dan cepat berpindah-pindah. Pipi putihnya menjadi ciri khasnya.


Gelatik jawa warna silver


Burung gelatik jawa menempati urutan kedua setelah Bondol (Lonchura spp) dari lima belas jenis burung ocehan Indonesia yang paling diminati di pasar Internasional. Akibatnya, beberapa tahun terakhir jumlah ekspor burung tersebut diperkirakan menurun drastis bersamaan dengan menurunnya populasi gelatik jawa di alam.

Gelatik jawa populer dijadikan sebagai satwa peliharaan, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga hingga luar negeri. Bahkan burung gelatik jawa ini kini bisa ditemui di pulau Hawai, Amerika Serikat.


Gelatik jawa warna putih


Gelatik jawa termasuk burung yang istimewa. Sebab penampilannya yang cantik telah mengilhami para penangkar di Eropa, khususnya Belanda, Belgia, dan Inggris, untuk menghasilkan berbagai mutasi warna yang cantik. Keindahan bulu, paduan warna, dan kicauan nyaringnya menjadi keistimewaan yang membawanya pada ancaman kepunahan.

Baca juga : Zebra Finch, Burung Pipit dengan Warna Bulu Bermotif Zebra

IUCN menetapkan burung ini dengan status genting (Endangered/EN). Disinyalir burung ini hampir menghilang dari habitatnya di Jawa dan Bali dan kini hanya terkonsentrasi di loksi-lokasi tertentu dengan populasi yang sangat kecil. Beberapa penelitian tentang ancaman terhadap spesies ini dan kondisi populasinya telah banyak dilakukan.


Gelatik jawa warna blorok


Saat ini semakin sulit menemukan gelatik jawa di alam. Penangkapan liar yang dilakukan untuk kepentingan bisnis, hilangnya habitat, dan terbatasnya ruang terbuka hijau menjadi alasan terjadinya penurunan populasi burung ini. Termasuk juga meningkatnya penggunaan pestisida di lahan pertanian. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Gelatik Jawa Burung Endemik Pulau Jawa dan Bali Kini Semakin Jarang Terlihat di Alam


Minggu, 07 September 2025

Gould Amadin, Burung Pipit Menawan dari Aussy



Gouldian Finch (Erythrura gouldiae) juga dikenal sebagai Lady Gouldian Finch, Gould Finch, Rainbow Finch, Pipit Pelangi atau Gould Amadin, merupakan burung warna-warni endemik Australia. Melihat warna-warni bulu tubuhnya yang indah, bahkan tanpa gradasi, tidak salah jika Gould Amadin dijuluki sebagai burung pipit tercantik di dunia.

Burung Gould Amadin berukuran sekitar 13-14 cm. Kepala Gould Amadin bisa berwarna merah, hitam, atau kuning. Sebelumnya dianggap sebagai tiga jenis finch yang berbeda, sekarang diketahui bahwa itu adalah varian warna yang ada di alam liar. Pembiakan selektif juga telah menghasilkan mutasi baru (biru, kuning, dan silver) baik di warna tubuh dan warna dada.

Gould Amadin meskipun masih satu jenis namun memiliki warna yang tidak sama


Pertama kali ditemukan oleh ahli ornitologi Inggris bernama Jhon Gould di padang sabana Australia Utara. Gould Amadine merupakan burung dari keluarga estildild-finch, Estrildidae yang merupakan subfamili Passeridae.

Burung ini ditemukan di Australia utara, dari Cape York Peninsula sampai Queensland utara-barat dan daerah utara ke wilayah Kimberley Australia Barat. Habitatnya adalah hutan savana tropis. Gould Amadin berpindah-pindah di area yang tidak terlalu luas (sekitar 40 kilometer persegi).

Kawanan finch di alam liar


Dan hanya berpindah ketika air atau makanan untuk mereka menjadi langka. Populasi liar terbesar dari spesies ini ditemukan di bukit Bastion, di samping kota Wyndham di Kimberley Timur. Karena kecantikannya Gould Amadin diekspor ke banyak negara di seluruh dunia.

Baca juga : Strawberry Finch, Si Merah Totol yang Mempesona

Gould Amadin pun ditangkarkan di banyak negara, untuk memenuhi permintaan penghobi burung eksotis. Sebelum akhirnya pemerintah Australia melarang kegiatan ekspor binatang Australia pada tahun 1959.

Gould Amadin menyukai dataran berumput


Penangkaran disejumlah negara di luar Australia telah menghasilkan sejumlah mutasi warna pada Gould Amadin. Kini telah banyak ditemui adanya Gould Amadin yang mempunyai warna punggung biru, pastel, silver, punggung kuning, dada putih, dan bahkan putih polos, serta albino.

Jumlah gould amadin mengalami penurunan yang cukup drastis selama abad ke-20, karena adanya serangan parasit. Secara umum, Gould Amadin rentan terhadap penyakit dan infeksi virus. Selain itu warnanya yang indah menyebabkan burung ini mudah tertangkap oleh predator. Kebakaran juga dinyatakan sebagai ancaman utama terhadap populasi alami.

Gould Amadin memakan biji-bijian yang ada


Burung-burung ini hidup di sabana tropis, semak belukar, dan hutan dengan dataran berumput yang biasanya dekat air. Gouldian finch adalah herbivora (granivora), burung ini memakan biji rumput yang telah masak dan setengah masak.

Burung Gould Amadin baik yang jantan maupun betina mempunyai warna cerah dengan marking hitam, hijau, kuning, dan merah. Namun betina cenderung berwarna kurang cerah. Satu perbedaan utama untuk membedakan jenis kelaminnya adalah bahwa dada pejantan berwarna ungu, sedangkan betina adalah mauve muda.

Gouldian finch aktif di siang hari. Burung ini sering mencari makan dalam kelompok kecil di darat atau saat terbang. Mereka biasanya adalah burung yang tenang, tetapi dari waktu ke waktu mereka bisa mengucapkan ‘ssitt.’ Mereka juga bisa mengeluarkan suara getaran, kicauan, dan desisan.

Gould Amadin biasanya berkembang biak di awal musim kemarau ketika ada banyak makanan di sekitarnya. Ketika seekor pejantan mendekati betina, dia akan melonjak-lonjak dan mengacak-acak bulunya dalam upaya untuk memamerkan warna-warna cerahnya.

Gould Amadin bersarang di lubang-lubang pohon


Burung ini akan membentangkan dadanya dan mengibaskan bulu-bulu di dahinya. Pasangan Gould Amadin biasanya membuat sarang di lubang pohon. Betina menghasilkan telur sekitar 4-8 butir dan betina biasanya bertelur pada malam hari. Inkubasi berlangsung selama 13 hari yang dilakukan oleh kedua induk pada siang hari.

Di luar musim kawin, Gould Amadin sering bergabung dengan kawanan burung lain seperti long-tailed finch/pinstat dan masked finch. Kawanan burung ini bisa berjumlah sekitar 1000 hingga 2000 ekor. Hal tersebut kemungkinan merupakan pertahanan terhadap predator.

Anakan Gould Amadin, di pinggir paruhnya ada semacam titik-titik mutiara


Pada musim kemarau, mereka biasanya menjadi lebih nomaden dan berpindah ke tempat di mana makanan dan air dapat ditemukan. Seperti jenis finch lain, Gould Amadin adalah pemakan bijian. Selama musim kawin, Gould Amadin terutama makan benih rumput sorgum matang atau setengah matang.

Baca juga : Manyar, Burung Pembuat Sarang Paling Rumit dan Unik

Selama musim kemarau, Gould Amadin mencari benih yang jatuh ketanah. Sejauh ini Gould Amadin telah diketahui mengkonsumsi enam jenis biji rumput yang berbeda, tetapi para peneliti belum menemukan bukti burung ini memakan serangga.

Indukan Gould Amadin sedang meloloh anaknya


Kedua induk akan mengerami telurnya secara bergantian. Ketika telur menetas, kedua induk merawat anaknya. Saat telur menetas, kedua induk akan merawat anaknya. Anak-anak burung itu altricial, mereka menetas telanjang tanpa bulu dan buta.

Gould Amadin yang baru menetas berwarna merah muda dan tak berbulu sampai umur sekitar 12 hari bulu baru mulai muncul. Burung sangat muda juga berwarna biru dengan bintik-bintik berpendar di sisi paruhnya untuk membantu sang induk melihatnya dalam gelap, dan dapat memberi makan anak-anaknya.

Penangkaran Gould Amadin


Anakan Gouldian finch menjadi dewasa dan siap untuk meninggalkan sarang ketika telah berumur 19-23 hari setelah menetas dan menjadi benar-benar mandiri pada usia 40 hari. Gould Amadin muda masih sangat rapuh hingga mengalami mabung kedua.

Burung muda memiliki warna khas. Kepala dan leher berwarna abu-abu, punggung, sayap dan bulu ekor hijau olive. bagian bawah cokelat pucat. Paruh kehitaman dengan ujung kemerahan dan kaki cokelat muda.

Melalui selective breeding, Gould Amadin telah mengalami mutasi warna bulunya


Beberapa peternak percaya bahwa gould amadin yang diasuh induknya lebih besar tingkat keberhasilannya membesarkan anaknya daripada burung yang dibesarkan oleh jenis lain, seperti bengkalis atau spice finch.

Baca juga : Pipit Matari, Pipit Cantik dari Tanah Papua

Burung berpredikat The Most Beautiful Finch in The World itu mudah dipelihara. Gould Amadin bisa dirawat di sangkar biasa. Namun, bila ingin menikmati keindahan warna bulunya, sebaiknya dimasukkan kandang aviari. Kandang berukuran 6 × 6 m² bisa diisi 30 pasang.

Sepasang Gould Amadin berwarna silver


Perlu disediakan kotak terbuat dari tripleks untuk rumahnya. Untuk tempat bermain bisa memanfaatkan beringin atau bambu hias. Cabang atau ranting pohon dapat sebagai alternatif. Pakan berupa biji-bijian, seperti milet putih, jewawut, dan kenari. Biji sawi, lobak, nigerseed, dan godem diberikan asal porsinya sedikit saja.

Burung ini juga menyukai jagung muda, kangkung segar, dan selada. Sesekali beri pakan kroto segar, ulat hongkong, atau telur ayam sebagai selingan. Bisa ditambahkan tulang sotong atau batu—batuan kecil untuk membantu pencernaan. Umur gold amadin mampu mencapai 9—12 tahun bila dirawat dengan baik. Cermati bila ada tanda-tanda serangan penyakit. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Gould Amadin Burung Pipit Tercantik di Dunia dari Australia


Selasa, 02 September 2025

Strawberry Finch, Si Merah Totol yang Mempesona



Strawberry Finch (Amandava amandava) merupakan jenis burung finch kecil yang menarik perhatian karena warna bulunya yang cerah dengan totol-totol putih. Burung yang juga dikenal sebagai pipit benggala atau avadavat merah ini banyak digemari sebagai burung hias, terutama karena corak merah dan totol putih yang menyerupai buah stroberi.

Strawberry finch memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Svadavat hijau (Amandava formosa), yang bulunya berwarna kehijauan, atau mirip dengan buah stroberi yang masih mentah. Kedua spesies ini termasuk dalam kelompok waxbills. Burung pipit kecil ini anggota dari famili Estrildidae

Burung ini merupakan jenis burung pemakan padi, biji rumput dan memiliki habitat di semak, padang rumput, lahan pertanian, sawah, rumpun gelagah. Tersebar sampai ketinggian 1.500 m dpl. Dapat dijumpai di India, China, Thailand, Jawa, Myanmar, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Sunda Kecil (meliputi Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor, dan Alor).

Svadavat hijau (Amandava formosa)


Pipit benggala memiliki tubuh ukuran kecil (10 cm). Mirip dengan burung pipit, Strawberry finch memiliki paruh kecil yang kuat untuk memecah biji-bijian yang menjadi makanan utamanya. Selain itu, di habitat aslinya, burung ini juga gemar memakan serangga kecil seperti ulat dan semut.

Baca juga : Pipit Matari, Pipit Cantik dari Tanah Papua

Di alam liar, Strawberry finch sering melakukan perjalanan dalam kelompok kecil, termasuk saat mau membangun sarang di antara alang-alang, semak, dan rerumputan. Tidak seperti spesies waxbills lainnya, burung Strawberry jantan memiliki lagu yang merdu dan sangat lantang dengan irama seperti seruling.

Sepasang Strawberry Finch


Saat tidak berada di musim kawin, burung pipit Benggala sering ditemukan bergerombol dalam kawanan besar, hingga 100 ekor burung. Tujuannya supaya bisa saling melindungi satu sama lain dan menciptakan ikatan di antara kawanannya.

Tetapi, ada pula yang berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, terbang bersamaan dengan kepak sayap yang cepat dan hinggap di rerumputan. Sekumpulan burung ini bisa ditemukan di daerah berumput dekat air, sawah, dan dekat dengan pemukiman manusia.

Sebagaimana kelompok waxbills lainnya, paruh burung stroberi rata-rata berwarna merah. Untuk membedakan burung jantan dan betina burung ini relatif mudah, karena termasuk dimorfik, yang berarti burung jantan dan betina memiliki penampilan fisik yang berbeda.

Burung Strawberry finch bisa dikenali dari bulu-bulunya yang berwarna dan bermotif seperti buah stroberi ketika memasuki musim kawin. Selama musim kawin, burung jantan akan memproduksi bulu-bulu berwarna merah dengan bintik-bintik putih, kepala berwarna cokelat gelap/kemerahan, dan ekor berwarna hitam.

Strawberry finch sering dijumpai di daerah berumput


Penampilan burung jantan saat musim kawin dan di luar musim kawin memang berbeda. Bahkan, dalam beberapa hal, si jantan memiliki kemiripan dengan betina di luar musim kawin. Misalnya, bulu bagian atas berwarna kecokelatan, bulu sayap gelap, bulu bagian bawah perut dan di atas ekornya merah gelap.

Baca juga : Bondol Hijau, Finch Cantik yang Jarang Dilirik

Tetapi, sexing tetap bisa dilakukan, karena betina hanya memiliki sedikit bintik putih di bagian sayapnya. Burung Strawberry finch jantan, mempunyai warna merah padam, sayap dan ekor kehitaman. Ada bintik-bintik pada sisi tubuh. Sayap dan tunggir berbintik putih kecil.

Kawanan Strawberry Finch di alam liar


Burung Strawberry finch betina, dengan ciri tubuh bagian bawah kuning tua abu-abu. Mantel coklat, tunggir merah, sayap dan ekor kehitaman. Ada beberapa bintik putih pada sayap. Iris coklat, paruh merah, kaki merah daging. Ternyata, bulu merah terang yang dimiliki oleh burung jantan ada fungsinya, yaitu menarik perhatian betina selama musim kawin.

Tarian yang mengesankan akan membuat burung itu dipilih jadi pasangannya. Burung ini membuat sarang berbentuk bola khas, dari rumput, pada vegetasi rendah berpaya atau berumput. Telur berwarna putih, jumlah 5-6 butir. Berbiak bulan Mei, Juni, Desember.

Selama musim kawin, burung ini bersifat monogami alias setia dengan satu pasangan. Lalu, burung betina akan bertelur sebanyak 4-6 butir dan akan menetas dalam waktu 11 hari. Dan anak-anak burung ini memerlukan waktu 20 hari untuk menjadi dewasa.

Saat masih muda, burung pipit Benggala memakan larva, pupa semut, kelabang, dan ulat. Ketika tumbuh dewasa, makanannya akan berganti menjadi biji-bijian dari tumbuhan millet, termasuk padi. Karena suka makan padi, burung pipit ini sering dianggap hama oleh petani.

Strawberry finch kerap dianggap sebagai hama padi


Pada saat yang bersamaan, kebiasaan Strawberry finch memakan serangga berperan penting untuk mengendalikan hama di persawahan. Secara tidak langsung Strawberry finch juga berkontribusi untuk penyebaran benih berkat kebiasaan makan biji-bijian.

Baca juga : Emprit Jepang, Jenis Finch Hasil Silangan untuk Dijadikan Peliharaan

Strawberry finch memiliki suara cicitan yang khas. Biasanya, burung betina vokalnya lebih pendek, lembut, dan jarang berkicau dibanding jantan. Tetapi, burung jantan dan betina akan mengeluarkan vokalisasi yang sama selama musim kawin.

Strawberry finch muda


Biasanya Strawberry finch gemar bercengkerama di padang terbuka dan rerumputan yang tinggi dan dekat dengan sumber mata air. Atau terbang cepat yang tidak kenal lelah dalam kelompok-kelompoknya. Saat sedang agresif, burung pipit Benggala akan mengeluarkan suara panggilan yang melengking.

Begitu pula saat berada dalam situasi bahaya, mereka akan mengeluarkan panggilan bernada tinggi untuk memperingati sesama anggotanya. Belakangan ini, jenis Strawberry finch memang banyak dicari para penggemar burung hias. Alasannya karena memiliki warna yang menggemaskan, legit seperti buah stroberi, sehingga enak dipandang. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Strawberry Finch, Burung yang Populer di Kalangan Penggemar Burung Hias


Jumat, 29 Agustus 2025

Kenari Merah, Salah Satu Jenis Kenari yang Populer karena Warna Bulunya



Burung kenari memiliki ukuran tubuh kecil hingga sedang, dengan panjang sekitar 12 hingga 15 sentimeter. Burung kenari memiliki paruh pendek, sayap yang kuat, dan ekor yang berbentuk persegi. Burung kenari jadi salah satu burung peliharaan yang paling populer di dunia.

Burung kenari dikenal karena suara kicauannya yang merdu dan burung kenari telah menjadi favorit di kalangan penggemar burung. Salah satu daya tarik utama burung kenari adalah keindahan warna bulunya yang beraneka ragam.

Burung kenari hadir dalam berbagai variasi warna, termasuk kuning, merah, oranye, putih, dan bahkan kombinasi warna yang lebih kompleks. Bulu yang cerah dan mencolok membuat burung kenari tampak menarik dan mempesona. Pemuliaan selektif telah menghasilkan banyak variasi warna yang unik dan mengagumkan pada burung kenari.

Burung Red Siskin


Salah satu yang sangat menarik perhatian adalah kenari merah. Kenari red factor, atau lazim disebut kenari merah, adalah kenari yang memiliki pigmen bulu yang berwarna kemerahan. Banyak variasi yang bisa dijumpai pada kenari merah.

Baca juga : Kenari, Burung dengan Suara Merdu dan Warna Mencolok yang Sangat Populer di Dunia

Hal ini ditentukan oleh intesitas warna merah pada bulunya, misalnya red intensive (merah pekat), rose (red pastel), red mosaic (bon putih merah) dan sebagainya. Kenari red factor diternak untuk mendapatkan kenari dengan bulu yang berwarna-warni (colorbred).

Burung mule siskin


Kenari ini kali pertama dikembangkan oleh Dr Hans Duncker (Jerman) pada awal 1900-an dengan menyilangkan siskin merah (jantan) dengan kenari kuning (betina). Beberapa orang mengatakan leluhur dari kenari kuning yang digunakan Hans adalah Roller Jerman, sementara yang lainnya menyakini sebagai kanari Border.

Disilangkannya kenari dengan red siskin ini bertujuan untuk memasukkan gen merah yang selama ini tidak dipunyai oleh kenari. Hasil dari persilangan tersebut tidak langsung menghasilkan kenari merah polos seperti sekarang ini.

Tetapi proses untuk mencetak kenari merah memerlukan jalan yang panjang. Hasil silangan pertama tetap harus terus disilangkan dengan kenari kuning sampai 4 atau 5 kali sehingga menghasilkan kenari yang berwarna jingga kemerahan, atau biasanya disebut oren pekat.

Jadi kalau ada kebingungan di antara para hobis kenari mengenai warna kenari merah, maka sebagai patokannya warna kenari merah yaitu oren pekat dengan catatan perawatannya menggunakan bahan alami seperti hijauan berupa sayuran dan buah-buahan.

Kenari berwarna oranye pekat


Jadi merahnya kenari merah bukan seperti merahnya bendera atau merah darah. Karena merahnya warna bulu pada kenari merah itu hasil dari pencampuran warna merah dan kuning. Jadinya warna oren pekat, semakin pekat mak akan semakin bagus.

Baca juga : Red Siskin, Burung Pipit Berwarna Merah dan Hitam Mencolok yang Menawan

Seiring berkembangnya jaman, burung kenari merah yang dahulu dihasilkan dari persilangan kenari kuning dengan red siskin sekarang sudah di upgrade. Yakni dengan menyilangkan kembali burung kenari merah dengan tetuanya yaitu red siskin.

Kenari merah harus selalu dijaga asupan makanannya


Hasil anakannya sudah mendekati warna red siskin sendiri. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh para penangkar untuk menghasilkan kenari merah. Mulai dari penggunaan pigmen warna (colourfood) hingga perlakuan pakan.

Salah satu faktor penentu untuk bisa memunculkan maupun menjaga warna pada kenari merah adalah asupan beta karoten pada makanannya. Salah satu hal yang tidak boleh ditinggalkan dalam merawat kenari merah adalah pemberian pakan yang mengandung pigmen alami.

Kenari Red Isabel Frost


Tanpa dukungan makanan yang mengandung beta karoten, warna merahnya akan memudar dan berubah menjadi kuning atau orange normal. Khususnya ketika burung mengalami perganti bulu dan pada masa berkembang biak.

Intensitas warna merah yang memuncukan varian/strain kenari red intensive, rose, dan red mozaik ditentukan pula oleh faktor lain, yakni faktor genetik (keturunan). Jadi ada dua faktor inti yang mempengaruhi penampilan warna pada kenari merah, yaitu genetik dan beta karoten dalam pakan.

Red intensive, misalnya, merupakan hasil perkawinan silang antara kenari kuning dengan red siskin. Warna anakan / F1 tidak langsung merah, tetapi oranye atau perpaduan antara oranye dan merah. Warna ini akan menjadi merah pekat jika burung diberikan pigmen alami melalui pakannya.

Karena itu, meski memiliki kenari merah, tetapi kalau dalam perawatannya tidak pernah memberikan makanan yang kaya akan beta karoten, maka warnanya tidak akan bisa bertahan merah. Dalam kasus red intensive, warna akan berubah ke warna aslinya (oranye) saat burung memasuki masa mabung atau saat bertelur.

Kenari Red Isabel Mosaic


Dalam perkembangannya, masih banyak orang yang salah menafsirkan warna dari kenari jenis ini. Misalnya kenari yang mendekati warna wortel atau orange intensive masih saja sering disebut kenari merah jenis red intensive.

Baca juga : Merawat Kenari yang Benar agar tetap Sehat dan Rajin Berkicau

Di pasaran memang banyak dikual obat kimia untuk menangani pigmen warna merah. Namun obat-obatan berbahan kimia tersebut jika diberikan terus menerus dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang tidak baik bagi burung tersebut.

Kenari Black Red


Sebenarnya beta karoten sudah ada dalam beberapa jenis sayuran dan buah-buahan yang kerap menjadi konsumsi burung kenari. Misalnya wortel, brokoli, tomat, buah cherry, labu, dan kentang manis. Buah wortel, misalnya, bisa diparut dan diberikan kepada kenari.

Yang perlu diingat, pemberian makanan itu hanya bersifat sementara dalam menahan pigmen warna merah pada bulu kenari merah. Ketika tidak bisa menyediakan menu yang kaya beta karoten secara rutin, maka warna merahnya berangsur-angsur memudar, dan kembali ke warna asalnya yaitu oranye.

Kenari Merah begitu mempesona


Prinsip kerja beta karoten pada kenari merah mirip dengan itik-itik yang dipelihara peternak di Kabupaten Brebes, di mana kuning telur (yolk) tidak berwarna kuning sebagaimana lazimnya, tetapi oranye-merah atau merah, karena itik biasa diberi pakan berupa kepala udang. Ketika dibuat telur asin, bagian yolk berwarna merah, berminyak, dan masir akibat kandungan beta karoten.

Harus hati-hati dalam membeli kenari merah. Lebih baik ditanyakan juga asal-usul dan makanan yang diberikan kepada burung kenari merah tersebut. Karena hal ini bisa menentukan apakah kenari tersebut memang red-factor atau sekadar kenari oranye terang yang mirip warna merah. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Kenari Merah, Kenari Hasil Persilangan yang Mampu Membius Penghobi Burung Kenari


Sabtu, 23 Agustus 2025

Manyar, Burung Pembuat Sarang Paling Rumit dan Unik



Manyar merupakan burung yang memiliki keunikan dalam membuat sarang, karena sarangnya terkenal unik dan rumit. Seperti halnya burung namdur yang membuat sarang secantik mungkin untuk memikat burung betina, burung manyar jantan juga memiliki perilaku yang demikian.

Burung manyar sempat dipandang sebelah mata oleh sebagian kicau mania tanah air. Burung ini dulu sering dijumpai dalam kandang ombyokan di beberapa pasar burung, seperti halnya burung pipit. Burung manyar sebenarnya mempunyai kicau tidak kalah dari kenari, blackthroat, dan mozambik, jika merawat dan melatih burung ini semenjak muda atau trotolan.

Bahkan, burung manyar bisa dimaster sekaligus dijadikan burung masteran. Burung manyar dulu hanya dikenal dari suaranya yang melengking tinggi, dengan beberapa variasi suara yang oleh sebagian kicau mania dinilai kurang enak didengar dan terdengar monoton.

Manyar tempua (Ploceus philippinus)


Tetapi, dalam perkembangannya, burung manyar ini bisa dilatih dengan berbagai macam suara, terutama suara burung kenari, blackthroat, dan mozambik. Burung manyar memiliki kemampuan meniru kicauan ketiga jenis burung tersebut dengan sangat fasih.

Baca juga : Pipit Matari, Pipit Cantik dari Tanah Papua

Bahkan tidak menutup kemungkinan kalau burung manyar ini mampu meniru suara kicauan jenis burung berkicau lainnya. Manyar merupakan jenis burung pemakan biji-bijian (granivora), habitatnya di padang rumput, hutan, rawa, dan persawahan.

Manyar jambul (Ploceus manyar)


Manyar termasuk dalam keluarga Ploceidae. Burung manyar merupakan burung penyanyi kecil (passerine) dan memiliki hubungan keluarga dengan burung finch. Burung manyar mempunyai karakter atau sifat gotong royong yang tinggi terutama dalam hal membuat sarang dan mencari makanan.

Burung manyar hidup secara berkelompok. Dalam satu kelompok biasanya terdapat hingga 300 pasangan. Burung ini biasa mencari makanan di daerah semak-semak akasia berduri. Selain itu, burung manyar juga sangatlah protektif terhadap keluarga dan teman temannya. Hal itu bertujuan untuk saling melindungi dan menjaga satu sama lain.

Di seluruh dunia terdapat 119 spesies burung yang termasuk dalam keluarga ini. Dari jumlah tersebut, empat spesies di antaranya terdapat di Asia Tenggara, dan tiga di antaranya bisa dijumpai di Indonesia. Yaitu Manyar tempua (Ploceus philippinus), Manyar jambul (Ploceus manyar), dan Manyar emas (Ploceus hypoxanthus). Sayang, kini burung unik ini kian susah ditemui.

Musim berbiak burung manyar dimulai pada bulan April hingga Oktober. Seekor pejantan dapat mengawini lebih dari satu betina. Keberhasilan seekor pejantan dalam mengawini betina sangat bergantung pada “kesempurnaan” sarang yang dibangunnya.

Manyar emas (Ploceus hypoxanthus)


Burung manyar memiliki keunikan dalam membuat sarangnya. Burung manyar jantan mulai menenun sarangnya menjelang musim kawin tiba. Si jantan akan membangun sarang yang cantik, untuk dipersembahkan kepada burung betina. Burung manyar tidak mau begitu saja menerima rayuan burung jantan.

Baca juga : Red Siskin, Burung Pipit Berwarna Merah dan Hitam Mencolok yang Menawan

Burung betina yang tertarik pada jantan tertentu akan menyelidiki sarang sang jantan dengan cermat, dan bila sang betina berkenan, maka perkawinan dapat terjadi. Jika sarang memang oke, burung jantan berhak mengawininya. Jika sarang acak-acakan, murahan, maka si jantan akan tereliminasi sebagai calon pasangannya.

Burung manyar jantan tengah membangun sarangnya


Ketika burung manyar jantan tahu dan sadar bahwa sarang hasil anyamannya tidak disukai oleh burung betina maka burung manyar jantan akan melakukan perubahan terhadap bentuk sarangnya (dekonstruksi). Manyar jantan akan membangun ulang sarang yang dibuatnya, hingga sang betina tertarik.

Sarang burung manyar berbentuk sangat unik dan rumit sehingga dalam bahasa Inggris disebut “weaver bird” (burung penenun). Beberapa jenis sarang burung manyar dilengkapi dengan “pintu tipuan” untuk mengelabui predator.

Pintu tersebut tampak jelas menganga, sementara pintu yang sebenarnya tersembunyi. Pemangsa yang mencoba masuk pintu tipuan akan menemui jalan buntu, tidak terhubung ke rongga tempat telur atau anak burung berada.

Arsitektur atau konstruksi sarang burung manyar ini sangat estetik, dianyam dari rumput-rumput kering dan ranting. Dan memiliki fungsi sangat penting bagi seekor burung manyar jantan, karena sarang burung manyar yang dianyam tersebut akan mempengaruhi daya tarik bagi seekor burung manyar betina.

Burung manyar jantan memanggil si betina untuk melihat sarang yang telah dibangunnya


Burung manyar akan melakukan berbagai cara untuk membangun sarangnya yang cantik, untuk menarik perhatian pasangannya. Burung penenun (weaver) ini biasanya memilih batang pepohonan sebagai tempat untuk membangun sarangnya. Sarang burung manyar umumnya berukuran kecil.

Baca juga : Zebra Finch, Burung Pipit dengan Warna Bulu Bermotif Zebra

Dan hanya sanggup dimasuki dua ekor burung saja, yaitu induk jantan dan betina. Tetapi tidak demikian dengan kawanan burung manyar di Gurun Kalahari, Afrika Selatan. Burung jenis ini memilih membangun sarang di tiang telepon yang berjajar, dengan menggunakan rumput dan ranting-ranting kering.

Sarang kawanan burung manyar di Gurun Kalahari, Afrika Selatan


Sulit membayangkan bagaimana mungkin burung sekecil itu bisa membangun sarang yang tinggi, berdiameter besar, bahkan bobotnya bisa mencapai 1 ton. Sarang raksasa itu bisa dihuni oleh lebih dari 100 pasang burung manyar di dalamnya. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Manyar, Burung yang Memiliki Keunikan dalam Membuat Sarang


Pesona Keindahan Mutasi pada Zebra Finch

Zebra Finch (Taeniopygia guttata) merupakan salah satu jenis finch yang cukup digemari di Indonesia. Sudah banyak kicau mania di Indonesia ...